Trio indie rock asal Jakarta yang terbentuk sejak tahun 2021 lalu, Retlehs merilis lagu barunya yang berjudul 15:19 pada 14 Maret 2023 melalui Sinjitos Collective. 15:19 merupakan lanjutan dari perilisan EP debut mereka, Satyr’s Satire yang dirilis pada tahun 2022 lalu.
Dalam single 15:19, Retlehs masih mengangkat tema tentang “Tujuh Dosa Mematikan” seperti dalam EP Satyr’s Satire. 15:19 membicarakan soal kemalasan yang menjadi pelengkap dari tujuh dosa yang sudah diwakili oleh lagu-lagu sebelumnya.
Ada lagu berjudul Blue yang mewakili dosa hawa nafsu, ada pula lagu berjudul Kaki yang mewakili dosa kesombongan, St. Adella mewakili dosa iri hati, dan lagu berjudul Matahari yang merangkum ketiga lagu sebelumnya.
15:19 digadang-gadang akan menjadi lagu pembuka untuk EP Satyr’s Satire bagian kedua yang rencananya dirilis tahun ini. Judul ini didapatkan dari referensi Alkitab, Amsal 15:19 yang memang bersabda tentang kemalasan.
“Bukan hanya rasa malas secara harfiah saja, namun kemalasan ini juga muncul sebagai manifestasi dari depresi. Saat melalui depresi, lo akan kehilangan motivasi buat melakukan hal seperti merawat diri, memenuhi kebutuhan biologis, atau bahkan sekadar bangun pagi. Semua menjadi berubah, sementara banyak orang hanya melihat bagian luarnya dan mengecap diri lo sebagai seorang pemalas,” kata sang vokalis, Anatasha dalam rilisan pers.
Retlehs menjamin bahwa EP bagian kedua nanti masih konsisten dengan musik rock alternatif. Namun, Retlehs juga sangat terbuka untuk memasukkan genre musik lain seperti punk rock, hip-hop, jazz, hingga bossanova.
Selain merilis lagu, Retlehs ini juga merilis sebuah video musik ciamik yang menampilkan para personelnya. Video musik buat single 15:19 sudah bisa lo saksikan via kanal YouTube Retlehs, Superfriend.
Trio Erlinda Anatasha (vokal), Hariara ‘Hara’ Hosea (bass), dan Faizu Salihi (drum) ini sebelumnya merangkum banyak kemarahan dalam EP debutnya, Satyr’s Satire. EP tersebut berisikan single-single yang terinspirasi dari klasifikasi dosa dalam ajaran agama Kristen, The 7 Deadly Sins.
Retlehs menginterpretasikan sosok mitologi Yunani dalam judul lagunya, yakni Satir yang merupakan manusia setengah kambing sebagai penggambaran manusia yang sering bertingkah merugikan.
Lagu berjudul Biru didapuk menjadi trek utama dari EP tersebut. Single itu memuat amarah terhadap kasus kekerasan seksual terhadap anak di institusi keagamaan. Proses penggarapannya terinspirasi oleh karya-karya dari musisi lainnya seperti Deftones, Muse, hingga Dave Grohl.
Retlehs sendiri diambil dari kata shelter yang diucap terbalik. Itulah mengapa ketiga personelnya menjadikan band ini seolah rumah atau tempat bernaung, tempat perlindungan, serta wadah bagi segala macam kegelisahan.
Trio ini membawa suasana eksperimental dan shoegaze sebagai hasil dari kecintaan gitaris Hara terhadap budaya punk rock 70-an, grunge 90-an, dan nuansa dreamy shoegaze. Menarik untuk dinanti seperti apakah EP bagian kedua dari Satyr’s Satire.
Image source: https://www.instagram.com/st.retlehs/
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 04/04/2023
11 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Muhamad Saifudin
17/12/2024 at 22:21 PM
SUSILO UTOMO
01/03/2025 at 08:58 AM
Agus Samanto
01/03/2025 at 12:02 PM
SARI ASTUTI
01/03/2025 at 15:23 PM
Ald /
01/03/2025 at 16:29 PM
Panji Nugraha
01/03/2025 at 21:44 PM
Smard man
02/03/2025 at 23:11 PM
SEPTIAN DWI NUGROHO
03/03/2025 at 18:41 PM
Tiurnatalia Manalu
03/03/2025 at 21:08 PM
SRI YAYA ASTUTI
04/03/2025 at 18:57 PM
Vivi
27/05/2025 at 09:12 AM