Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Acum Bangkutaman: Apa Kabar Toko Vinyl?

Author : Admin Music

Article Date : 01/08/2022

Article Category : Noize

Dibutuhkan 90% rasa cinta, 8% keberanian, dan 2% keberuntungan untuk membuat dan menjalankan toko piringan hitam.

Digging adalah aktivitas yang belum lama ini tak sengaja saya kerjakan. Saat itu, saya tengah diundang untuk spinning piringan hitam di sebuah in-store session yang berlokasi di Atlas Records, sebuah toko vinyl di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Karena bermain di toko vinyl, sudah barang tentu saya pun menyempatkan waktu untuk sekadar menggali crate demi crate untuk melihat koleksi vinyl yang toko ini tawarkan. Hasilnya sudah pasti bisa diterka, saya pun membawa pulang vinyl yang sudah lama saya incar. Jodoh tak ke mana.

Anyway, tulisan ini didedikasikan untuk mereka yang masih punya energi untuk membuat toko vinyl di tengah kondisi ketika grafik minat akan vinyl di Indonesia sudah tidak setinggi ketika 2013-2014 dulu, Superfriends.

Atlas Records tidak sendirian, ada Millers Records yang baru membuka cabangnya di daerah perbatasan Kebayoran Lama-Bintaro. Millers Records, yang berpusat di Bali sempat membuka cabangnya di Jakarta, tepatnya di daerah Panglima Polim, Jakarta Selatan. Namun, belum lama ini, mereka memindahkan cabangnya ke sini, tentunya dengan koleksi yang makin bertambah.

Di Jakarta sendiri, ada beberapa toko vinyl yang masih eksis berdiri. Di antaranya berlokasi di sejumlah wilayah di Jakarta Selatan seperti Laidblack Blues, toko vinyl yang berlokasi di Pasar Santa yang masih eksis bertahun-tahun. Ada juga toko vinyl District Wax di kawasan Bangka, Lala Records yang berada di kawasan A3000 Creative Compound, Kemang Raya, sampai PHR Record Store di Kawasan Senayan, Jakarta Pusat. Beberapa entitas lain seperti toko merchandise Quickening dan Lawless Jakarta yang berada tak jauh dari Atlas Records juga masih setia menjual beberapa koleksi vinyl-nya. Ini juga belum dihitung dengan puluhan kios vinyl yang masih kokoh berdiri di area Jalan Surabaya sampai Blok M Square, Superfriends.

Sementara di daerah Tangerang, Heyfolks Shop berdiri sebagai entitas toko musik dan merchandise paling tua juga masih menjual koleksi vinyl-nya. Belakangan, Satria Ramadhan, pemilik toko ini, juga membuka cabangnya di Bintaro. Selain Millers Records, di Bintaro sendiri juga masih ada Abadi Records serta PHR Records, cabang baru dari toko yang sama yang ada di Senayan.

Superfriends, bicara tentang toko vinyl, saya jadi ingat cerita bagaimana Samson dan toko vinyl-nya Laidback Blues di pasar Santa. Bertahun-tahun eks penyanyi band reggae di masa lalu ini mencurahkan perhatiannya kepada vinyl. Angan untuk membuka toko piringan hitam sudah ada sejak awal, mungkin sejak ia kerap kali nongkrong di Jalan Surabaya.

Saking seriusnya, ia sampai rela mengorbankan pekerjaannya dan membuat toko vinyl sendiri di Pasar Santa. 2014, Pasar Santa saat itu sepi, atau lebih tepatnya Pasar Santa lantai 2 sangat sepi. Toko vinyl yang tetap buka hanya Substore, kedai kopi hanya ABCD, sisanya gelap gulita. Kemudian pelan-pelan lampu menyala satu per satu di sepanjang koridor, pasar pun menjadi ramai, kedai kopi bermunculan, cafe di sana, snack’s corner di sini, burger di sana, termasuk salah satunya toko vinyl.

Ada sekitar 10 toko vinyl di Pasar Santa yang buka kurang lebih setahun kemudian. Pasar Santa mendadak jadi tempat paling hip se-Jakarta. Ironis ketika orang harus rela berkeringat bak masuk ke sauna hanya sekadar minum kopi dan window shopping.

Laidback Blues mendadak banyak saingan, tapi mungkin tak jadi masalah karena prinsip “the more the merrier” bisa mengundang banyak konsumen ke sana. Maklum, waktu itu sempat meledak ‘penyuka vinyl dadakan’.

Namun, ketika Samson mungkin mengharapkan aura Pasar Santa dan segala pernak-pernik yang ada termasuk toko vinil tak bisa bertahan lama, karena satu lain hal yang tak mengenakkan di lingkungan pasar, tak menunggu lama surut seketika. Satu per satu kedai kopi tutup, anak muda pun enggan datang, Superfriends!

Sedikit pengunjung berarti sedikit pemasukan, tamparan telak bagi Laidback Blues. Namun karena kecintaan dan keberanian, Laidback Blues tetap bertahan.

Hingga saat ini, dengan total kurang dari 10 toko vinyl yang ada di Pasar Santa, Samson dan Laidback Blues tetap bisa bertahan. Malah, Samson membuka toko baru di Toko Buku Aksara bernama Lala Recs yang juga berjualan vinyl. Belakangan ia juga membuka entitas baru bernama Bintaro Records yang berlokasi di daerah Bintaro.

Jika bukan karena 90% rasa cinta, 8% keberanian, serta 2% keberuntungan, tak ada orang yang berani melakukan manuver akrobatik berbahaya ini.

Cerita tentang Samson ini mengingatkan saya akan sebuah film yang ‘membangunkan’ saya juga sejuta umat yang gila akan dunia vinyl ini, High Fidelity.

Saya ingat kalimat-kalimat awal Rob Gordon soal bagaimana ia memiliki toko vinyl-nya, Championship Vinyl. Ia mengatakan, “Saya memiliki toko ini bernama Champions Vinyl, terletak di lingkungan yang menarik minimal pembeli jendela. Saya bertahan karena orang-orang yang melakukan upaya khusus untuk berbelanja di sini - kebanyakan pria muda - yang menghabiskan seluruh waktu mereka mencari single-single Smith yang dihapus dan album Frank Zappa yang asli, tidak dirilis ulang.” 

Meski saya tak pernah tahu bagaimana proyeksi bisnis untuk mendirikan toko vinyl di era pandemi ini, saya menduga ada sejuta alasan selain dari uang belaka ketika melihat dari bagaimana vinyl itu tetap terus lestari lewat ‘ruang-ruang’ yang disebut toko vinyl ini.

Suatu hari, mungkin saja saya akan membuat toko vinyl saya sendiri. Entah kapan, entah ini hanya sekadar angan-angan. Tapi saya takut kalau nanti kejadian.

Image source: Shutterstock

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Vinyl #toko vinyl #Pasar Santa #Jakarta Selatan #Piringan Hitam

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
Noize

Arief Blingsatan: “Mods Vs Rockers” Menggerakkan Musik Dunia

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Cooly Rocks On Tour, Rockabali sebagai Kanon Kultur

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Bentuk-bentuk Baru Musik Tradisional Indonesia

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dewo Iskandar: Pilih Ngeband atau Solo?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Stephanus Adjie: Metal Paska Pandemi Bagian 2

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Acum Bangkutaman: Serunya Tur Konser (Bagian 2)

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Mengenal Musik Lewat Video Game

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dinamika Metal Lokal Setelah Pandemi

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Lagu Indonesia: Banyak Hit, Sedikit Evergreen?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Kilas Balik: Mengunjungi Situs-Situs Musik Terpenting Di Belanda

Read to Get 5 Point
image arrow
1 /