Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Gaung - Opus Contra Naturam

Author :

Article Date : 20/07/2017

Article Category : Super Buzz

Orange Cliff Records

Nilai: 7.5/10

Tidak banyak band lokal yang memainkan musik seperti Gaung. Duo Raden Rama Saputra (bass/gitar/synth) dan Rendy Pandita (drum/vokal) memainkan rock eksperimental-instrumental dengan corak psikedelia 70-an dan post-rock yang dioplos progressive rock kental. Sebagai album perdana, Opus Contra Naturam berhasil memuat visi artistik dan musikalitas Gaung dengan tepat.

Menurut Gaung, visi tersebut adalah untuk “membuat setiap nada, tekstur suara, komposisi, dan denyutannya terbuka sehingga dapat diinterpretasikan dalam berbagai makna, terlepas dari genre-nya.” Walau demikian, Gaung membagi Opus Contra Naturam menjadi empat fase.

[bacajuga]

Fase tersebut adalah kontemplasi (“Lucinae” dan “Hole of Paradiso”), dekonstruksi (“Eridanus Supervoid” dan “Summa Injuria”), pemberontakan (“Killing with Virtue”, “Old Masters”, dan “Opus Contra Naturam”) dan penerimaan jati diri (“Kanon” dan “Evidence of Extraordinary Bliss”). Tanpa panduan lirik, Opus Contra Naturam menjadi tantangan tersendiri, baik untuk didengarkan hingga habis atau untuk dijelajahi lebih jauh.

Berlandaskan konsep tersebut, Gaung berani melangsungkan eksperimentasi sonik di sembilan lagu instrumental yang disatukan eksplorasi panjang dan sound psikedelik. Ketiadaan lirik (vokal muncul sebagai ‘bebunyian’ di lagu “Kanon”) dan struktur lagu tradisional, menjadikan progresi serta kekhasan sound Gaung sebagai satu-satunya benang merah Opus Contra Naturam.

Dua elemen tersebut sudah muncul sejak lagu petama, “Lucinae” menetapkan mood album ini. Motif permainan gitar “Lucinae” nantinya akan muncul di seluruh album. Pola pergerakan dari sound psikedelik dan rock 70-an ke stoner/doom metal (dan sebaliknya), kerap muncul hingga Opus Contra Naturam usai. Motif tersebut dilapisi bebunyian yang sesekali bergeser ke spektrum metal yang lebih berat.

Pola dominan tersebut mencapai kombinasi terbaiknya di lagu "Hole of Paradiso", "Opus Contra Naturam", “Killing With Virtue”, dan "Kanon”. Eksperimentasi dan eksplorasi bunyi di tiga lagu tersebut disaring dengan tepat oleh Gaung sehingga mampu memperdengarkan visi yang ingin mereka capai. Sementara "Evidence of Extraordinary Bliss", lagu terpanjang di Opus Contra Naturam, menghadirkan sentuhan konkrit yang disebut sebagai sonic journalism oleh Gaung.

"Evidence of Extraordinary Bliss" mempertemukan pola komposisi Gaung dengan rekaman perbincangan antara dua wartawan, yaitu Hanna Azarya Samosir dari CNN Indonesia dan Marc Navales dari AFP biro Filipina. Perbincangan tersebut memuat kesaksian tentang pertikaian berlatar politik dan agama, termasuk pembunuhan 37 wartawan dan sepak terjang Moro Islamic Liberation Front (MILF) di Filipina Selatan. Hanya satu hal yang melemahkan komposisi ini, yaitu lemahnya transisi antara musik dan rekaman pembicaraan tersebut.

Kelemahan Opus Contra Naturam yang paling jelas terdengar adalah transisi antar komposisi dalam lagu yang terdengar dipaksakan. Mistransisi ini muncul di lagu "Eridanus Supervoid", "Old Masters", dan “Summa Injuria”. Tajamnya kelokan komposisi mengakibatkan transisi tersebut diisi keheningan atau instrumentasi yang salah tempat.

Selain mistransisi, jauhnya eksplorasi sonik yang dilakukan Gaung juga membuat ketiga lagu tersebut terdengar monoton dan membosankan, walau tidak melewati durasi sepuluh menit. Bagian-bagian tersebut membuat Opus Contra Naturam terus-terusan berada di antara dan tidak memiliki progresi serta alur yang jelas. Di album ini, empat menit dapat terasa seperti selamanya.

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Gaung #Opus Contra Naturam #Orange Cliff Records #Bandung #psychedelic rock #album review

0 Comments

Comment
Other Related Article
8 Struktur Lagu yang Umum Digunakan dalam Bermusik

8 Struktur Lagu yang Umum Digunakan dalam Bermusik

27 November 2021

Super Buzz

Lil Uzi Vert Hadirkan Single Bernuansa Seram

Lil Uzi Vert Hadirkan Single Bernuansa Seram

27 November 2021

Super Buzz

SeteruSunyi dan Tuan Tigabelas Suguhkan Karya Penuh Makna

SeteruSunyi dan Tuan Tigabelas Suguhkan Karya . . . .

27 November 2021

Super Buzz

Rammstein Perkenalkan Lagu Baru di Luar Angkasa

Rammstein Perkenalkan Lagu Baru di Luar Angkasa

27 November 2021

Super Buzz

A$AP Rocky Rilis Single Baru Sandman untuk Beri Penghormatan

A$AP Rocky Rilis Single Baru Sandman . . . .

26 November 2021

Super Buzz

EDM adalah Genre Musik yang Sering Disalahpahami, Kenapa?

EDM adalah Genre Musik yang Sering . . . .

26 November 2021

Super Buzz

Alicia Keys Ungkap Rincian Double Album Barunya KEYS

Alicia Keys Ungkap Rincian Double Album . . . .

26 November 2021

Super Buzz

Memahami Apa Itu Intro

Memahami Apa Itu Intro

25 November 2021

Super Buzz

Voice Of Baceprot Siap Bertandang Ke Eropa

Voice Of Baceprot Siap Bertandang Ke Eropa

25 November 2021

Super Buzz

Sean Paul dan Sia Kembali Berkolaborasi

Sean Paul dan Sia Kembali Berkolaborasi

25 November 2021

Super Buzz

1 /