Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Alvin Yunata: Kisah Rilisan Fisik Hari Ini

Author : Admin Music

Article Date : 15/09/2021

Article Category : Noize

Pertama kali saya berinteraksi dengan rilisan fisik yaitu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, bagi kami yang tumbuh besar di era 80an kaset adalah pilihan satu-satunya yang tersedia dengan harga yang sangat terjangkau. Walaupun ayah saya mengoleksi beberapa piringan hitam namun saya sendiri tak pernah menemukan dimana toko piringan hitam berada di kala itu.

Ya, mungkin memang saat itu saya masih terlalu kecil dan minim akan referensi dan yang saya tahu ayah pernah berujar kalau harga piringan hitam jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga kaset. Sebenarnya bisa dikatakan bahwa Indonesia sendiri adalah negara kaset, piringan hitam yang memang hadir di era awal pra industri musik di negara ini nyatanya dalam sejarahnya memang telah ditetapkan sebagai barang mewah, bahkan tertera dalam undang-undang sekalipun.

Mayoritas piringan hitam yang dirilis di Indonesia sebelum tahun 1960 berbahan dasar shellac. Shellac terbuat dari semacam resin yang diambil dari serangga dengan nama latin Kerria lacca dan banyak terdapat di India. Piringan hitam shellac 78 RPM berdiameter 12 inci mampu menampung suara berdurasi sekitar 4-5 menit dan sekitar 3 menit untuk yang berdiameter 10 inci.

Piringan hitam berbahan dasar shellac cenderung mudah pecah sehingga sangat sedikit ditemukan di masa sekarang. Sebagai gantinya, muncul Polyvinyl Chloride atau lebih sering disingkat vinyl yang mulai digunakan sebagai bahan dasar piringan hitam mulai tahun 1942. Namun demikian, penyebaran teknologi rekaman berbahan dasar vinyl baru mulai marak pada akhir tahun 1950-an dikarenakan dampak dari Perang Dunia II.

Irama Records disinyalir sebagai perusahaan rekaman pertama di Indonesia pasca kemerdekaan, lahir di tahun 1951 dan akhirnya Irama mencetak piringan hitam secara mandiri di Indonesia pada tahun 1953. Satu persatu perusahaan rekaman lain bermunculan termasuk perusahaan rekaman milik negara Lokananta yang aktif sejak tahun 1956. Seluruh perusahaan rekaman di Indonesia saat itu merilis piringan hitam terus menerus hingga ke dekade berikutnya di era 60an.

Namun, tetap saja dengan harga piringan hitam yang mahal perputaran penjualan rilisan fisik saat itu tidak mencapai angka yang signifikan, hanya di beberapa kalangan menengah ke atas saja yang mampu membeli rilisan tersebut. Dengan kata lain disinyalir hingga paruh awal era 70an sebelum masuknya era kaset, industri fisik belumlah bisa dianggap sebagai patokan industri yang sahih. Sebagian besar rakyat Indonesia mendengarkan rekaman melalui Radio Republik Indonesia yang tentunya dengan pilihan lagu yang terbatas dari sekian banyak rilisan yang muncul di era itu.

Teknologi kaset lahir di paruh awal tahun 70an dan ketika teknologi pita kaset tersebut masuk Indonesia maka lahirlah industri rilisan fisik di Indonesia yang konkrit. Dengan harga produksi yang lebih murah format kaset mulai digunakan untuk meraih pasar yang lebih luas lagi walaupun format piringan hitam pun masih terus diproduksi kala itu hingga di pada masa akhir 70an format piringan hitam dicetak hanya untuk kebutuhan promosi khususnya bagi radio-radio. Indonesia adalah negeri kaset dan terbukti ribuan rilisan muncul terus menerus, liga perusahaan rekaman pun semakin padat.

Hingga masuk ke era 80an pamor piringan hitam di Indonesia semakin menurun hingga akhirnya semua rilisan beralih format menuju kaset. Hampir tiga dekade kaset mendominasi pasar rilisan fisik hingga masuknya era millenium teknologi compact disc (CD) lahir. Namun tetap saja di awal kelahiran CD yaitu di pembuka tahun 2000 harga jualnya masih tergolong mahal, pilihan kaset masih menjadi primadona. Hingga paruh awal tahun 2000an berselang kurang dari 5 tahun ketika harga CD lambat laun turun akhirnya format tersebut menjadi opsi baru bagi para pencinta rilisan fisik disamping format kaset.

Di era luluhnya pamor piringan hitam yang saat itu ditelan mentah-mentah oleh format kaset perdagangan piringan hitam import pun makin jarang dipasaran sedangkan perputaran piringan hitam lokal rilisan tahun 50 hingga 70an hanya ada di toko musik bekas macam kios-kios di jalan Surabaya. Harganya pun turun drastis karena peminatnya semakin berkurang.

Melewati satu dekade di era millenium akibat pergeseran zaman, perubahan gaya hidup anak muda dan pengaruh budaya barat trend piringan hitam mulai mencuat kembali. Berangsur-angsur harga piringan hitam lokal kembali naik, pasar-pasar loak menjadi sasaran utama kaum urban untuk berburu piringan hitam klasik lokal. Toko-toko rilisan fisik kembali memesan piringan hitam import untuk memenuhi rak-rak di toko.

Arus trend piringan hitam di barat mempercepat siklus perputaran penjualan piringan hitam, yang dahulu tak tersentuh penuh debu kini menjadi barang buruan. Ditambah para kolektor dan juga label rekaman dari Amerika dan Eropa mulai merilis ulang album-album klasik dan kompilasi band-band lawas Indonesia membuat rilisan lokal klasik meroket harganya. Bermunculan pulalah beberapa nama band sidestream mulai merilis album dalam format piringan hitam yang hingga pada akhirnya diikuti oleh perusahaan-perusahaan rekaman besar lainnya di Indonesia. Hingga hari ini terhitung banyak sekali artis dan band lokal yang merilis album dalam format piringan hitam. Bahkan di setiap toko musik hari ini sangat mudah kita temui format piringan hitam memenuhi rak dengan harga yang kian melambung.

Di era yang sama beberapa pemain baik pihak label rekaman maupun band secara personal di wilayah liga sidestream mulai mencoba mengangkat kembali format kaset. Beberapa produsen yang sempat non aktif akhirnya kembali ke lapangan termasuk Lokananta. Tidak semua pihak mampu merilis format piringan hitam karena tetap saja butuh modal yang jauh lebih besar ketimbang merilis format kaset. 

Terlebih pabrik pencetak piringan hitam di seluruh dunia terhitung tidak terlalu banyak tergolong langka, maka banyak kendala yang muncul yaitu perihal waktu produksi selain biaya. Dahulu Indonesia memiliki alat cetak piringan hitam namun sayang alat tersebut kini sudah berpindah tangan ke negara lain. Belum lagi regulasi pajak masuk piringan hitam kian hari semakin ketat dan mahal, pemerintah merujuk kembali undang-undang yang menyatakan piringan hitam termasuk dalam kategori barang mewah.

Hadirnya masa pandemi tak disangka malah mendongkrak trend piringan hitam dunia, catatan penjualan makin menggila adanya kenaikan yang signifikan dalam dua tahun ke belakang circa 2020-2021. Di Inggris penjualan piringan hitam sepanjang tahun 2020 mencapai 5 juta keping melebihi penjualan CD dan menurut laporan hingga pertengahan tahun 2021 angka tersebut terus naik hingga mencapai 11,5%.

Di Amerika sendiri memiliki cerita yang serupa bahkan lebih, hingga pertengahan tahun 2021 penjualan vinyl mencapai angka 19,8 juta keping naik 108% dari tahun sebelumnya. Mengalahkan penjualan CD di angka 18.9 juta keping hingga pertengahan tahun 2021 yang juga naik sebanyak 2,2% dari tahun sebelumnya.

Beberapa bahan dasar pun turut naik hingga memengaruhi harga jual yang otomatis ikut melonjak. Pabrik piringan hitam di seantero dunia akhirnya memberlakukan sistem waiting list alias antri, beberapa nama label raksasa mendominasi pabrik hingga label rekaman menengah harus rela menunggu gara-gara quota cetak yang masif dari perusahaan rekaman raksasa tersebut.

Akibat hal diatas bagi sebagian “pemain” sepertinya format kaset adalah salah satu solusi baru yang tak kalah menarik, saya mungkin menjadi salah satu orang yang setuju apabila band-band lokal Indonesia hari ini mulai merilis format kaset lebih aktif lagi. Toh bangsa Indonesia adalah negara kaset dalam sejarahnya, tidak semua mampu untuk membayar harga piringan hitam yang semakin tidak masuk akal. Dan percayalah jurus seni pita kaset pun masih terdengar cukup ampuh dan magis khususnya bagi para pencinta rilisan fisik.

Untuk sebagian kasus tertentu khususnya bagi para kolektor ketika harga piringan hitam klasik lokal sudah semakin sinting, beralih berburu format kaset lokal klasik sepertinya menjadi hal yang menarik dengan harga yang jauh masih ramah di kantong. Jadi mari kita ambil kesimpulan sementara, bahwa bagi sebagian orang yang menganggap harga piringan hitam sudah mulai tidak wajar maka kembali ke kaset adalah jawaban yang paling nyata. 

 

Image source: Shutterstock

ARTICLE TERKINI

Tags:

# Alvin Yunata #Supernoize #Vinyl #rilisan fisik #Piringan Hitam #CD #Musik

0 Comments

Comment
Other Related Article
Acum Bangkutaman: Menghargai Lebih Musik Indonesia

Acum Bangkutaman: Menghargai Lebih Musik Indonesia

29 September 2021

Noize

Buluk Superglad: Love Your Idol And Don’t Let It Kill You

Buluk Superglad: Love Your Idol And . . . .

27 September 2021

Noize

Stephanus Adjie: Bursa Transfer Band Metal

Stephanus Adjie: Bursa Transfer Band Metal

11 September 2021

Noize

Hasan Dzikrullah: Ide Kreatif Itu Memilih Inangnya

Dewo Iskandar: Ide Kreatif Itu Memilih Inangnya

31 August 2021

Noize

Evolusi Rockbali: Vegas Dulu, Ubud Kemudian

Evolusi Rockabali: Vegas Dulu, Ubud Kemudian

29 August 2021

Noize

Arief Blingsatan: Mengenang We Are Pop Punk Tour 2014

Arief Blingsatan: Mengenang We Are Pop . . . .

27 August 2021

Noize

Acum Bangkutaman: Membangun Semangat Guyub di Tengah Pandemi

Acum Bangkutaman: Membangun Semangat Guyub di . . . .

26 August 2021

Noize

Stephanus Adjie: Mati Ide Mati Gaya, Terus Gimana Dong?

Stephanus Adjie: Mati Ide Mati Gaya, . . . .

05 August 2021

Noize

Arief Blingsatan: Musik sebagai Media "Self Healing"

Arief Blingsatan: Musik sebagai Media "Self . . . .

24 July 2021

Noize

Panggung Internasional Bagi Para Penulis Heavy Metal

Panggung Internasional Bagi Para Penulis Heavy . . . .

18 July 2021

Noize

1 /