Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Reset Password

Please choose one of our links :

Arief Blingsatan: Mengenang We Are Pop Punk Tour 2014

Author : Admin Music

Article Date : 27/08/2021

Article Category : Noize

Terinspirasi dari film dokumenter "What drive us" karya " Dave Grohl " dan surat cintanya kepada setiap musisi , seperti yang dikutip dari Deadline.

"Film ini adalah surat cinta saya kepada setiap musisi yang telah mengendarai mobil van tua mereka bersama teman-teman mereka dan meninggalkan semuanya untuk sebuah hadiah yang sederhana yakni bermain musik," ujar mantan drummer Nirvana, Dave Grohl mengutip dari Deadline (12/4).

Rindu yang sama yang dialami musisi saat ini adalah perjalanan bermusik atau kita biasa sebut "Band Tour" , Setelah sekian lama industri musik harus beradaptasi dengan situasi pandemi lalu kemudian apa yang paling dirindukan adalah perjalanan panjang dari kota ke kota , bermusik di atas panggung dengan ribuan orang bernyanyi dan menari bersama , dimana kita bebas melalang buana kemana - mana , bebas bertemu dan berdekatan dengan penggemar musik kita , berjumpa kawan jauh , bertemu teman baru.

Tour dengan Mobil Van identik dengan Tour di sa'at sebuah band sedang berjuang mencapai puncaknya dimana di film ini diceritakan tentang kisah-kisah band besar seperti U2 , Metallica,Red Hot Chili Peppers, Foo Fighters dan masih banyak lagi yang mana band-band tersebut pernah berada di fase dan situasi tour seperti ini .

Di luar konteks film " What drive us " , disini penulis mengajak flashback dari sekian banyak tour yang dijalani para musisi , pasti ada tour yang paling berkesan , dimana hal ini serupa dengan cerita perjalanan tour di film "What drive us" , dan mungkin tour tersebut menjadi momen yang tak terlupakan , sebagai pemain bass dan vokalis Blingsatan disini saya akan bercerita tentang salah satu tour yang berkesan buat saya

 "We are pop punk tour 2014" adalah momen tour yang berkesan bagi Arief Blingsatan.

 "We are pop punk tour" yang di gelar di bulan Mei tahun 2014 oleh VOX management sebuah kolektif promotor skena Pop punk Surabaya , di mana 7 band Pop punk tersebut adalah: PEE WEE GASKINS ( JKT ), BLINGSATAN (SBY) , SNEAKERS AND THE CHICKEN FIGHTERS ( MALANG ) , FUN FUN FOR ME ( PONOROGO ) , THE FLINTSTONES (SBY) , VERTICAL JUMP (SBY) , GOOD MORNING AVIKA (SBY)

7 band ini dijadwalkan dengan waktu yang padat setiap hari berpindah - pindah kota selama 15 hari penuh dimulai di tanggal 1 Mei di Semarang , 2 Mei di Tangerang , 3 Mei di Jakarta , 4 Mei di Bandung , 5 Mei di Rembang , 6 Mei di Yogyakarta , 7 Mei di Solo , 8 Mei di Ponorogo , 9 Mei di Sidoarjo , 10 Mei di Kediri , 11 Mei di Gresik , 12 Mei di Bangkalan , 13 Mei di Malang , 14 Mei di Jember , dan berakhir pada tgl.15 Mei di Surabaya.

Bisa dibayangkan 7 band Punk di dalam 2 bus selama 2 minggu lebih, melakukan tour bersama keliling jawa , pastinya adalah sebuah keseruan yang tak terlupakan bagi yang terlibat di perjalanan bermusik ini

Berangkat malam dini hari dari Surabaya pada 1 Mei menuju kota pertama yaitu kota Semarang ,tepatnya di sebuah panggung taman rekreasi kota bernama " Wonderia ", di kota pertama ini kita mencoba saling kenal, dimana tidak semua kita saling mengenal diantara 7 band tersebut , sesampai kota semarang kita melakukan rutinitas seperti halnya dengan pertunjukan biasanya dari sound checkcheck in hotel hingga kembali ke venue untuk konser , rombongan Pee Wee Gaskin dari Jakarta tiba bertemu di Semarang , malam itu menjadi konser yang paling tertib dalam rangkaian tour kita , di mana malam itu juga kita langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Tangerang , yang tiba di pagi hari , seperti pada umumnya kita lakukan sound check bersama–sama.

Di Kota kedua ini kita mulai saling mengakrabkan diri , dan suasana mulai mencair karena panas audience di tangerang cukup berenergi , sangat terasa "gigs" karena di gelar di sebuah Gor , tepatnya di "GOR Bandengan" , kemudian dari Tangerang langsung kita meluncur ke Jakarta menginap di sebuah kompleks atlet di daerah Ragunan , konser yang di gelar di Universitas Jayabaya ini mendapat antusias yang cukup besar , tampil membara semua band menunjukan taringnya .

Gor basket Universitas Jayabaya menjadi ajang pogo liar , aura gigs sengat kental , tidak ada fasilitas istimewa seperti ruang artis , kita semua nongkrong seadanya di backstage dimana justru kondisi itu membuat kita mulai akrab mulai terasa senasib sepenanggungan , walau sedikit terjadi konflik dengan mahasiswa kampus Jayabaya waktu itu , tapi terselesaikan dengan baik-baik , keesokan harinya kita meluncur ke kota selanjutnya yaitu Bandung.

Di luar ekspektasi pertunjukan kali ini tidak begitu ramai , karena diadakan di sebuah bar yg berada di lantai atas sebuah gedung yaitu "chinook bar & cafe" , tapi justru di situ tour terasa lebih hangat ada beberapa dari personil band bertemu kawan , pacar bahkan "groupies" terasa seperti "private party" yang mana dokumentasinya di hidden - oleh kebanyakan dari kita , dari Bandung malam menjelang pagi setelah semua personil kembali ke busnya masing-masing , sejenak kita habiskan waktu untuk nongkrong di pinggir jalan kemudian kita meluncur di kota selanjutnya yaitu Rembang.

Kota ke-5 adalah kota yang terasa melelahkan dan beberapa dari kita mulai terjangkit influenza. Bus nampak tidak kondusif seperti kapal pecah dimana manusia dan peralatan band jadi satu dalam bus , hal-hal lucu mulai terjadi dari ketimpa peralatan band ketika bus melaju tak terkendali , bau busuk kaos baju kotor dan kaus kaki sampai bau kentut masuk angin , canda gokil mulai terjadi sampai igauan para pemabuk jadi hal yang menghibur dalam perjalanan.

Di kota ke 5 ini kita mulai merasa seperti saudara senasib sepenanggungan , spirit punk mulai nampak , ketika semua mulai menganggap persetan dengan aturan standard konser pada umumnya , semangat dibakar dengan momen dimana saya (Arief blingsatan) dan Sansan ( Pee wee gaskin ) meminta panitia untuk membongkar stage brigade , dimana menurut kami pagar ini akan membatasi kita dengan penonton , sempat terjadi seteru antara musisi dan EO penyelenggara dan akhirnya tidak sabar brigade kita bongkar sendiri di depan ribuan penonton , hari itu menjadi pesta moshpit dan stage diving di Gedung Haji kota Rembang.

Tidak tahu kenapa dari Rembang menuju Yogyakarta ada semangat yang berbeda dari kita semua yang terlihat alami, kita sudah mulai saling menguatkan dan memberi semangat , ada komitmen bersama dari kota ke 6 dan seterusnya tanpa berbicara serius terbentuk "rules" baru diantara kita.

Di antaranya pesta minuman fermentasi tradisional setempat dan panggung harus tampak ugal-ugalan. Setiba di kota ke 6 kita langsung menuju XT Square, untuk "soundcheck" yang dilanjutkan dengan checkin dan interview radio , hari itu berakhir pecah konser kami di Yogyakarta.

XT Square dipadati ribuan penonton dan moment kota ke 6 ini adalah dimana kita bener-benar lepas kendali , mencoba mengembalikan budaya gigs punk di hall yg besar , dimulai ketika kemeriahan perayaan lokal di backstage , diawali waktu Blingsatan on stage , secara spontan tiba-tiba para personil band berhamburan terjun ke lautan penonton hampir semua termasuk Pee Wee Gaskin ikut dalam riuh stage diving para penonton , hingga konser usai kita semua berada di atas panggung dari hanya sekedar sorak-sorai hingga membantu backing vocal dan terkadang ada list lagu yang tak terduga di setiap penampilan line up band , secara tiba - tiba jam session dengan personil yang tak terencana terjadi , dengan semangat punk yg membara dari kota jogja kami semakin akrab malam itu juga kita menuju kota Solo dengan suasana hati yang lebih punk.

 Solo adalah kota ke 7 dan 7 hari pula yang kita butuhkan mencari kemistri di antara 7 band ini , mereka sudah menemukan ritme dari masalah teknis hingga pola pertunjukan dan rule yg secara alami tertata, Solo pecah ! gelanggang "Bung Karno" dipenuhi masyarakat Punk yang sedang bergembira menari dan bernyanyi bersama , sedangkan diatas panggung berjalan seperti roots nya , yg saya ingat di pertunjukan waktu itu Blingsatan hanya memainkan 3 lagu , setelah satu lagu berjalan , sang gitaris "Zack" terkapar di atas panggung akibat minuman keras , satu lagu hanya main berdua dilanjut dengan digantikan seorang crew di lagu penutup ,

Berlanjut ke kota berikutnya dari Jawa tengah menuju Jawa timur , Ponorogo sebagai kota pertama di jawa timur di hari ke - 8 rangkaian WAPP Tour ini dimana salah satu lineup " "Fun Fun for Me" berasal dari ponorogo , ramai riuh seperti biasanya , dilanjutkan dengan kota Sidoarjo dimana sebagai kota ke - 9 , di sidoarjo pertunjukan terhenti di tengah acara karena terganjal masalah perijinan keramaian dan hanya Empat line up yaitu Good Morning Avika , Vertical jump , Fun fun for me dan The Flinstone yg main sebelum acara dihentikan , sebagian dari kami di gunakan untuk beristirahat , terutama Band yang berasal dari "Surabaya" dimana mereka menyempatkan diri untuk beristirahat di rumah masing-masing , kebetulan jarak Sidoarjo tidak terlalu jauh dari Surabaya , waktu checkout hotel tempat rombongan meluncur di kota berikutnya yaitu kota "Kediri" sebagai kota ke 10.

Seperti biasanya Kediri pecah konser yang digelar di kampus STAIN menyedot ribuan pengunjung dari kota-kota sekitarnya , setelah kediri kita melanjutkan di kota ke -11 yaitu di Gresik dengan kondisi "crowd" yg sama dengan kota-kota lain , setelah stay dan bersantai di sebuah rumah besar milik salah satu "crazy rich" kota Gresik , lalu pagi harinya kita melanjutkan perjalanan menyeberang laut menuju pulau "Madura" , kota "Bangkalan" adalah kota ke-12 yang kami kunjungi , di luar ekspektasi Madura pun tidak kalah pecahnya dengan kota-kota lain , skena Punk dari berbagai kota Madura berkumpul di "Gor Saka" , kemudian kita melanjutkan perjalanan menuju kota "Malang" sebagai kota yang ke-13 dimana SATCF adalah band tuan rumah di kota ini , venue tiba-tiba berubah dari rencana di Gor Ganesha pindah di sebuah club di bilangan Malang kota , greget suasana gigs yg membara dengan penuh sesak pengunjung ,

Semakin panas ada perasaan campur aduk ketika kita sudah menikmati rutinitas antara tidak ingin cepat usai dan rindu rumah , setelah usai pertunjukan di Malang malam itu juga rombongan menuju kota Jember , konser yang di gelar di "GOR Kaliwates" adalah tour di kota yg ke 14 dimana para line up menghabiskan tenaga nya untuk tampil maksimal , klimaks penampilan setiap band ada di kota ini , menjelang usai perjalanan dari kota Jember menuju kota terakhir yaitu Surabaya , di kota yg ke-15 , di mana konser penutup digelar di sebuah cafe bernama "Castello" , layaknya pesta punk di sebuah club malam banyak dari penonton di bawah umur tidak diijinkan masuk , di kota ini kami melepas semuanya rasa lega dan bahagia di akhir rangkain tour ini , We Are Pop Punk Tour 2014 telah usai dan menyisakan banyak cerita bagi kami dan mereka-mereka yang menyaksikan konser kami.

Sekilas tentang pelajaran yang di dapat di setiap perjalanan bermusik , tentang bagaimana kita melakukan sebuah tanggung jawab profesional sambil bersenang - senang sebagai musisi , dituntut dengan berbagai konsekuensi dengan kemungkinan kondisi yang tak terduga , seperti tour WAPP 2014 yang di gelar beruntun , kompleksitas problem dan konflik pasti terjadi peran promotor sangatlah berpengaruh.

Dari bagaimana menyesuaikan technical riders, transportasi akomodasi hingga manajemen produksi , yang berhadapan dengan bermacam event organizer di berbagai kota dengan kondisi yang berbeda - beda dalam waktu yg terbatas. Ada sebuah kerjasama dan visi yg sama adalah hal penting yang harus dijalin antar musisi dan promotor untuk sebuah " Band Tour " , mungkin kini kita baru sadar seberapa berharganya kebersamaan dalam perjalanan bermusik yang telah kita jalani bersama.

 

Image source: Instagram/Arief Blingsatan

ARTICLE TERKINI

Tags:

#arief blingsatan #Blingsatan #punk #pop punk #Tour

0 Comments

Comment
Other Related Article
Alvin Yunata: Kisah Rilisan Fisik Hari Ini

Alvin Yunata: Kisah Rilisan Fisik Hari Ini

15 September 2021

Noize

Stephanus Adjie: Bursa Transfer Band Metal

Stephanus Adjie: Bursa Transfer Band Metal

11 September 2021

Noize

Hasan Dzikrullah: Ide Kreatif Itu Memilih Inangnya

Dewo Iskandar: Ide Kreatif Itu Memilih Inangnya

31 August 2021

Noize

Evolusi Rockbali: Vegas Dulu, Ubud Kemudian

Evolusi Rockabali: Vegas Dulu, Ubud Kemudian

29 August 2021

Noize

Acum Bangkutaman: Membangun Semangat Guyub di Tengah Pandemi

Acum Bangkutaman: Membangun Semangat Guyub di . . . .

26 August 2021

Noize

Stephanus Adjie: Mati Ide Mati Gaya, Terus Gimana Dong?

Stephanus Adjie: Mati Ide Mati Gaya, . . . .

05 August 2021

Noize

Arief Blingsatan: Musik sebagai Media "Self Healing"

Arief Blingsatan: Musik sebagai Media "Self . . . .

24 July 2021

Noize

Panggung Internasional Bagi Para Penulis Heavy Metal

Panggung Internasional Bagi Para Penulis Heavy . . . .

18 July 2021

Noize

Dewo Iskandar: Jangan Mati Dalam Stagnasi!

Dewo Iskandar: Jangan Mati Dalam Stagnasi!

15 July 2021

Noize

Buluk Superglad: Jakarta Bawah Tanah (Part 2)

Buluk Superglad: Jakarta Bawah Tanah (Part 2)

11 July 2021

Noize

1 /