Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Arief Blingsatan: “Mods Vs Rockers” Menggerakkan Musik Dunia

Author : Admin Music

Article Date : 31/07/2022

Article Category : Noize

Superfriends, musik bisa digerakkan dengan apa saja, termasuk di antaranya peran roda dua sebagai budaya berkendara dan fashion sebagai identitas sebuah sub-kultur. Menyinggung salah satu era ketika hal ini merupakan fase penting perkembangan musik dunia terutama di Amerika dan Eropa, di balik geliat pergerakan kaum Mods and Rockers di Inggris di era 1950-1960-an dengan segala atributnya yang identik, ada garis lurus tentang sejarah perkembangan musik dari sudut penikmatnya, khususnya penikmat fashion, pengendara roda dua, beserta gaya hidupnya.

Masyarakat Mods dari kaum buruh yang mapan hasil dari akulturasi budaya dari pergolakan sosial ekonomi Eropa di era sebelumnya yang menghasilkan sebuah sub-kultur dari berbagai kaum pekerja imigran dan lokal yang mempunyai dorongan ingin menyetarakan kelas sosial dengan kaum mapan lainya di Inggris. Hal ini menjadikan musik RnB dan jazz menjadi sebuah simbol kelas sosial yang mapan di era itu.

"Mods" awalnya adalah sebutan bagi pecinta musik jazz. Mods yang berarti ‘modernism’ atau ‘modernist’ merupakan sebuah "counter culture" bagi kaum konservatif di peradaban Inggris di era itu. Searah dengan perkembangan, selera bermusik mereka mengalami pergeseran karena begitu banyak budaya yang terlibat dengan berbagai ras di sub-kultur ini. Kemudian, selera musik kaum Mods ini berkembang ke musik soul, ska, dan blue beat. Musisi yang berpengaruh di era itu di antaranya adalah Claudette and Corporation dan Laurel Aitken.

Dari berbagai genre musik tersebut menjadi musik yang paten digemari bersama memperkuat sub-kultur sebagai cita rasa musik para "pekerja hedon" kala itu.

Hal yang menarik adalah kaum Mods selalu indentik dengan para skuteris, para penunggang roda dua jenis skuter, yaitu Vespa dan Lambretta sebagai brand favoritnya. Mereka juga mengenakan jaket parka yang melindungi setelan jas bergaya italia sebagai ciri khasnya.

Seiring waktu, kaum Mods semakin populer dan berkembang yang didominasi oleh kaum muda di era itu. Mereka punya spirit rebel dari akar kaum jalanan Inggris yang mereka sebut "Teddy Boys & Girls" menjadi sesuatu yang “gila’’, serta menjadi energi tersendiri bagi para Mods.

Kehadiran band The Who misalnya, yang lahir dari Inggris di tahun 1964 silam, turut menjadi simbol kaum Mods. Salah satu band legendaris dari Inggris ini beranggotakan Pete Townshend (gitaris), Roger Daltrey (vokalis), John Entwistle (bassis), dan Keith Moon (drummer). Formasi ini dianggap sebagai formasi tersolid dari band yang saat ini diperkuat juga oleh Zachary Starkey, anak Ringo Starr, drummer The Beatles.

Gitaris The Who, Pete Townshend, merupakan salah satu sosok yang cukup dikagumi oleh anak-anak Mods. Dia adalah salah satu ikon Mods masa itu, Superfriends.

Sedangkan di sisi lain, ada gelombang rock n' roll dari Amerika yang mulai menggaung di daratan Eropa melalui mereka yang berkecimpung di dunia pengendara motor yang dijuluki dengan “Rockers". Berbeda dengan kaum Mods, kaum Rockers adalah masyarakat pecinta musik rock n' roll di Inggris yang diawali dengan era ketika custom culture—yang juga ditulis sebagai ‘kustom kulture’—berkembang pesat di Amerika.

Dunia berkendara dan otomotif berjalan beiringan dengan musik dan fashion di kalangan "greaser”—sebutan bagi pecinta musik rockabilly, rock n' roll, dan penggemar hotrod—yang digandrungi anak muda Amerika di masa itu. Salah satu faktor yang mempengaruhi gelombang ini adalah film The Wildone yang diperankan oleh aktor Marlon Brando. Saat itu, film ini sangat mengesankan para anak muda dan Marlon Brando muncul sebagai ikon anak motor dengan jiwa pemberontak. 

Kehebohan film dan gelombang ini menggaung sampai ke Eropa saat Inggris sedang booming ajang motor balap MotoGP, seiring dengan masuknya musik rock n' roll yang mulai dipopulerkan oleh Elvis Presley dengan lagu-lagu rock n' roll diperdengarkan melalui cafe-cafe yang menjadi tempat tongkrongan para pengendara motor melalui alat dengar yang paling mutkhir di masa itu: jukebox, Superfriends.

Tak lama setelah itu, mereka membuat tradisi balap liar dari cafe ke cafe dengan perhitungan waktu durasi dari hits lagu-lagu rock n' roll yang diputar di jukebox. Hal inilah yang melatarbelakangi muncul aliran motor Cafe Racer dengan sebutan Rockers tadi sebagai penunggangnya. Para Rockers pun bisa mendapatkan gelar ‘’tone up boys’’ setelah seseorang mampu mencapai kecepatan maksimal.

Para Rockers umumnya nongkrong di cafe legendaris bernama Ace Cafe. Cafe ini berlokasi di North Circular Road, sebuah jalan lingkar yang mengitari Kota London. Pada era itu pula, anak-anak muda penggemar balap liar dan musik rock n’ roll ini mulai mengadopsi sub-kultur tersebut hingga menjuluki Rockers sebagai sebuah simbol gaya hidup.

Ada sebuah momen yang bersejarah bahwa Mods dan Rockers—yang adalah musuh bebuyutan—sempat memporak-porandakan sejumlah kota di Inggris. Penyebabnya diketahui akibat beberapa kerusuhan yang selalu di blow-up oleh media-media populer Inggris kala itu. Hal ini kemudian menjadi momen yang dikenang sebagai acara tahunan anak-anak motor di seluruh dunia yang diberi julukan “Mods Vs Rockers” yang selalu dikaitkan dengan pertunjukan musik rock n’ roll, ska, dan banyak lagi.

Superfriends, dari sekilas jejak cerita tentang ‘’Mods Vs Rockers’’ membuktikan bahwa musik bisa digerakkan oleh kegemaran dan gaya hidup pecinta musiknya. Kenyataan ini semakin memperjelas bahwa pergerakan sosial budaya mempunyai kekuatan membentuk peradaban musik di zamannya.

Image source: Shutterstock

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Mods Vs Rockers #rock n roll #rockabilly #arief blingsatan #Supernoize

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
Noize

Acum Bangkutaman: Apa Kabar Toko Vinyl?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Cooly Rocks On Tour, Rockabali sebagai Kanon Kultur

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Bentuk-bentuk Baru Musik Tradisional Indonesia

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dewo Iskandar: Pilih Ngeband atau Solo?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Stephanus Adjie: Metal Paska Pandemi Bagian 2

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Acum Bangkutaman: Serunya Tur Konser (Bagian 2)

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Mengenal Musik Lewat Video Game

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dinamika Metal Lokal Setelah Pandemi

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Lagu Indonesia: Banyak Hit, Sedikit Evergreen?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Kilas Balik: Mengunjungi Situs-Situs Musik Terpenting Di Belanda

Read to Get 5 Point
image arrow
1 /