Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Reset Password

Please choose one of our links :

Skateboard

Author :

Article Date : 29/10/2020

Article Category : Super Buzz

Skateboard tidak hanya dianggap sebagai sebuah olahraga ekstrem, melainkan juga sebagai sebuah budaya serta lifestyle. Bahkan tidak jarang juga dianggap sebagai sebuah ekspresi seni. Berkembangnya budaya skateboard di perkumpulan anak muda menghadirkan pergerakan yang melahirkan elemen-elemen pendukung yang membantu membesarkan budaya tersebut, seperti streetwear fashion, entertainment, hingga musik yang dikenal dengan genre skatepunk. Skatepunk sendiri saat ini lebih dikenal juga sebagai salah satu subgenre dari musik punk rock.

Di setiap keberadaan skena skateboard, kerap kali juga diiringi dengan musik yang berasal dari genre punk rock dan hardcore punk, yang lebih dikenal dengan skatepunk. Skatepunk sendiri, menurut sejarahnya, hadir di tahun 1980-an di California, Amerika Serikat. Kala itu, skateboard merupakan salah satu permainan atau olahraga yang cukup populer di kalangan anak muda. Tidak jarang juga skateboard dianggap sebagai bentuk pemberontakkan. Band-band punk ikonis seperti Buzzcocks, Descendents, Adolescents, Black Flag, Circle Jerks, Big Boys, Suicidal Tendencies, dan JFA merupakan sebagian dari penggiat seni yang senantiasa mempopulerkan genre tersebut. Musik-musik skatepunk sendiri identik dengan pergerakan tempo gitar dan drum yang cepat, serta petikan bass yang groovy dan menjadi pondasi bagi musiknya. Untuk perihal lirik, awalnya musik skatepunk ini identik dengan narasi-narasi tentang pemberontakan dan counter culture di tempat budaya skateboard berkemang. Namun lambat laun, liriknya mengalami perubahan zaman, di mana para musisi sering menyelipkan lirik-lirik berbau humor yang dilapisi bentuk kritik terhadap orang-orang sok pintar.

Menurut para pegiat skatepunk di Amerika Serikat, terminologi genre tersebut pertama kali dipopulerkan oleh Mörizen "Mofo" Föche yang merupakan seorang vokalis dari band punk, Drunk Injuns yang juga pernah bekerja di salah satu majalah Skateboard populer di dunia, Thrasher Magazine. Selain itu, album Bad Religion yang berjudul Suffer di tahun 1988 juga dianggap sebagai salah satu album yang diproduksi karena pengaruh budaya skatepunk yang kuat. 

Masuk ke tahun 1990-an, musik dari genre skatepunk ini mulai mengalami perubahan. Musik skatepunk di tahun tersebut lebih identik dengan nuansa punk yang lebih memaksimalkan elemen melodinya atau yang juga dikenal dengan nama melodic punk. Band atau kelompok musik yang pada tahun tersebut berada di bawah naungan genre skatepunk antara lain adalah Consumed, Good Riddance, Strung Out, NOFX, Goldfinger, Lagwagon, Guttermouth, No Use for a Name,Blink-182, Face to Face, Slick Shoes, MxPx, Unwritten Law, Ten Foot Pole, Screeching Weasel, Bad Religion, The Offspring, dan Pennywise. Kelompok musik tersebut juga berhasil membawa genre skatepunk kepada kalangan yang lebih luas atau mainstream. Hal tersebut juga terjadi berkat dukungan Vans yang mengadakan festival musik Warped Tour di tahun 1995. Tidak hanya skatepunk, setiap tahunnya kehadiran Warped Tour masih ditunggu-tunggu sebagai salah satu ajang musik perayaan genre dan budaya punk di mancanegara

Salah satu album skatepunk yang cukup memiliki pengaruh besar di ranah industri mainstream adalah Smash dari The Offspring yang rilis pada tahun 1994. Album Smash milik The Offspring tersebut berhasil mendapatkan penghargaan platinum sebanyak 6 kali oleh Recording Industry Association of America (RIAA). Penghargaan tersebut dibuktikan melalui penjualan albumnya yang mencapai angka 6.3 juta keping di Amerika Serikat dan lebih dari 5 juta keping secara global. Selain itu album Punk in Drublic dari NOFX yang rilis pada tahun 1994 juga digadang sebagai album skatepunk yang juga mendorong budaya skatepunk untuk lebih dikenal di mata publik internasional bersama album Dookie dari Green Day dan ...And Out Come the Wolves milik Rancid. 

Video game juga memiliki peran penting dalam mempopulerkan budaya skatepunk. Hampir seluruh permainan konsol rumahan Tony Hawk’s seperti Pro Skater, Pro Skater 2, Pro Skater 3, Pro Skater 4, Underground, American Wasteland, Downhill Jam, serta Proving Ground memiliki soundtrack yang diisi oleh band-band yang mengusung genre skatepunk, seperti agwagon, Guttermouth, Vandals, Suicidal Tendencies, Millencolin, Bad Religion, dan Consumed. Serial pertama dari game Tony Hawk’s Pro Skater juga berhasil menjadi salah satu video game dengan tingkat penjualan terbesar di tahun 1999. Keberhasilan tersebut juga didukung dengan kepopuleran konsol PlayStation sebagai salah satu konsol video game terbaik di era tersebut. 

Selain di Amerika Serikat, Indonesia juga memiliki band yang aktif dan serius mempopulerkan genre skatepunk di Tanah Air. Mereka adalah Rosemary. Rosemary pertama kali dibentuk oleh Soffi Gahara (vokal), Arie Ardiansyah (gitar), Indra Gatot (bass), dan Imam (drum) pada tahun 1997. Band asal Bandung ini berdiri dari hubungan pertemanan yang lahir di sebuah komunitas skateboard di Kota Kembang.

ARTICLE TERKINI

Tags:

#skatepunk # skateboard # rosemary #Green Day # nofx # black flag # descendents

0 Comments

Comment
Other Related Article
Album Kedua Big Red Machine yang Kayak dengan Kolaborasi

Album Kedua Big Red Machine yang . . . .

22 September 2021

Super Buzz

Lewat Album Debut, Gangga Ajak Merayakan Patah Hati

Lewat Album Debut, Gangga Ajak Merayakan . . . .

22 September 2021

Super Buzz

Doggyhouse Records: dari Shaggydog untuk Musik Indonesia

Doggyhouse Records: dari Shaggydog untuk Musik . . . .

22 September 2021

Super Buzz

Luapkan Gelisah, Boston Manor Rilis “Carbon Mono”

Luapkan Gelisah, Boston Manor Rilis “Carbon . . . .

21 September 2021

Super Buzz

Ed Sheeran Rilis Single Baru Penuh Emosi untuk Album Keempat

Ed Sheeran Rilis Single Baru Penuh . . . .

21 September 2021

Super Buzz

5 Lagu Terbaik Pemenang Grammy untuk Playlist Penyemangat

5 Lagu Terbaik Pemenang Grammy untuk . . . .

21 September 2021

Super Buzz

Heruwa Vokalis Shaggydog Rilis Single Solo ‘Ngopi Dulu Lah’

Heruwa Vokalis Shaggydog Rilis Single Solo . . . .

20 September 2021

Super Buzz

Dry Cleaning Lepas Double Single untuk Rayakan Album Debut Mereka

Dry Cleaning Lepas Double Single untuk . . . .

20 September 2021

Super Buzz

Lagu Sedih Indonesia dari Musisi dan Band Indie Lokal

Lagu Sedih Indonesia dari Musisi dan . . . .

20 September 2021

Super Buzz

Jangar Tebar Penawar Rindu Lewat “Rijang”

Jangar Tebar Penawar Rindu Lewat “Rijang”

19 September 2021

Super Buzz

1 /