Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Reset Password

Please choose one of our links :

Bondi Effect: Pedal Overdrive Kenamaan dari Australia Buatan Jon Ashley

Author : Admin Music

Article Date : 15/09/2021

Article Category : Super Buzz

Dari hobi jadi cuan, itulah yang dilakukan oleh Jon Ashley. Kesukaannya dalam merakit barang elektronik dan pedal efek gitar, justru mengantarkannya bisa mendirikan sebuah brand pedal sendiri.

Namun, keinginan Jon Ashley dalam mendirikan perusahaan sendiri bukan cuma kesukaan saja. Hal itu didorong dengan keinginannya untuk memperbaiki taraf hidup melalui penghasilan yang lebih besar. Sederhananya, pedal efek juga menjadi jalan untuk Jon Ashley keluar dari jerat kemiskinan.

"Alasannya lebih banyak karena kemiskinan. Saya miskin ketika duduk di bangku sekolah menengah, orang tua saya seorang misionaris sehingga tak punya banyak uang untuk membeli perlengkapan yang saya inginkan," ujarnya kepada Worship Gtr.

Dengan latar belakang keinginan meningkatkan ekonomi dan kesukaan merakit pedal, Jon Ashley akhirnya mendirikan perusahaan pedal sendiri bernama Bondi Effects pada Mei 2013. Dalam perjalanannya, Bondi Effects diakui menghasilkan salah satu pedal Overdrive terbaik di dunia.

Dua di antara pedal efek ternama buatan Bondi Effect itu adalah Sick As dan Del Mar Overdrives.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Bondi Effects (@bondieffects)

"Saya memulai Bondi Effects pada Mei 2013. Saya telah merakit pedal untuk diri sendiri dan teman-teman untuk sementara waktu dan selalu bermimpi untuk menjadikannya bisnis, tetapi saya tidak ingin merilis apa pun sampai saya dapat membuatnya sendiri," jelas Jon Ashley.

"Saya merancang Sick As di komputer saya saat berlibur di Nebraska, tidak pernah benar-benar berpikir apa pun akan terjadi. Ketika saya sampai di rumah, saya membangunnya dan memberikannya kepada Gearmanndude yang kebetulan bekerja cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Dia menyukainya dan membuat demo," lanjutnya.

Ketika pertama kali merancang pedal itu, Jon Ashley masih berusia 18 tahun. Dia memulai Bondi Effect di Amerika Serikat dan tak punya ekspektasi besar, awalnya, pada usahanya ini. Namun, ketika dia pindah ke Australia, Bondi Effect menjadi lebih berkembang dan bisa terus beroperasi hingga sekarang. 

Bondi Effect sendiri diambil dari nama kota dan kata dari Aborigin yang merupakan suku asli Australia yang punya arti 'air yang memecah batu'. Seperti artinya, Bondi Effect kini sudah semakin mendunia.

"Orang tua saya adalah misionaris ketika saya tumbuh dewasa, jadi saya menghabiskan sebagian besar masa kecil saya di Sydney sebelum pindah kembali ke AS ketika saya masih di sekolah menengah. Tak lama setelah pindah kembali, ibu saya di diagnosa dengan Gangguan Skizoafektif," kisah Jon Ashley dilansir Reverb.

"Hidup saya di sana cukup kacau, dan saya selalu ingin kembali ke "rumah"—seperti yang selalu dirasakan Australia bagi saya. Itu terasa sangat tidak terjangkau untuk waktu yang lama, tetapi beberapa tahun setelah memulai bisnis, kami dapat pindah pada bulan Oktober 2015," ujarnya.

Kehidupan keras yang menerpa Jon Ashley selama tumbuh dewasa menjadikannya sosok yang pantang menyerah dan punya banyak ide kreatif. Namun, ia mengakui bahwa semua kesuksesan yang didapatkan Bondi Effect saat ini takkan ada tanpa bantuan orang lain.

"Saya sebetulnya tak terlalu tertarik untuk masuk ke dunia bisnis, tetapi kebetulan Gearmanndude--seorang YouTuber yang sering membuat video demo pedal--bekerja di toko gitar lokal dekat saya. Saya kemudian memberinya pedal Sick As untuk meminta pendapatnya. dia kembali dua minggu kemudian dengan video demo dan meminta situs web saya, yang tidak saya miliki. Saya segera mengumpulkan apa yang saya bisa, dan kami segera mulai menjual pedal," kisahnya.

Saat ini ada 5 kenis pedal efek overdrive yang disediakan oleh Bondi Effect yaitu Sick As Breakers Overdrive, Art Van Delay, 2026 Compressor, dan Del Mar Overdrive.

Kini Jon Ashley pun tak bekerja sendirian dalam mengelola bisnis pedalnya. Dia dibantu oleh istrinya, Anna Ashley, yang mengurusi bagian photography, sosial media, dan hubungan dengan customer.

"Bondi Effects adalah Anna dan saya sendiri. Saya melakukan bagian engineering—saya ingin membuat ini terdengar lebih keren, tetapi pada intinya, banyak mengubah ide-ide fantastis menjadi kenyataan praktis melalui riset ribuan jam di depan komputer. Anna melakukan semua bagian fotografi, media sosial, dan keterlibatan pelanggan kami. Kami membagi tugas produksi juga, dengan semua pedal dirakit, diuji, dan dikemas sendiri," tutup Jon Ashley.

Salah satu fakta menarik dari Bondi Effect ini adalah musisi Indonesia macam Iga Massardi menggunakan salah satu produknya yaitu Del Mar. Vokalis dan gitaris Barasuara tersebut bahkan sempat membuat ulasannya melalui video yang diunggah di kanal YouTube-nya.

 

Image source: Website Bondi Effect

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Rock #Pedal # efek gitar #bondi effect #iga massardi #jon ashley

0 Comments

Comment
Other Related Article
Heruwa Vokalis Shaggydog Rilis Single Solo ‘Ngopi Dulu Lah’

Heruwa Vokalis Shaggydog Rilis Single Solo . . . .

20 September 2021

Super Buzz

Dry Cleaning Lepas Double Single untuk Rayakan Album Debut Mereka

Dry Cleaning Lepas Double Single untuk . . . .

20 September 2021

Super Buzz

Lagu Sedih Indonesia dari Musisi dan Band Indie Lokal

Lagu Sedih Indonesia dari Musisi dan . . . .

20 September 2021

Super Buzz

Jangar Tebar Penawar Rindu Lewat “Rijang”

Jangar Tebar Penawar Rindu Lewat “Rijang”

19 September 2021

Super Buzz

Iron Maiden Kembali Buka Jalur untuk Terbitnya “Senjutsu”

Iron Maiden Kembali Buka Jalur untuk . . . .

19 September 2021

Super Buzz

4 Teknik Olah Vokal untuk Tingkatkan Kemampuan Bernyanyi

4 Teknik Olah Vokal untuk Tingkatkan . . . .

19 September 2021

Super Buzz

Musik Reggae: Menilik Sejarah Perkembangannya di Dunia dan Indonesia

Musik Reggae: Menilik Sejarah Perkembangannya di . . . .

18 September 2021

Super Buzz

Every Time I Die Umumkan Album Kesembilan dan Lepas Lagu Baru

Every Time I Die Umumkan Album . . . .

18 September 2021

Super Buzz

LVRN Records: dari Teman Kuliahan Jadi Label Hip-hop Kenamaan

LVRN Records: dari Teman Kuliahan Jadi . . . .

18 September 2021

Super Buzz

Rumahsakit Rilis Dua Single Sekaligus untuk Tahun 2021

Rumahsakit Rilis Dua Single Sekaligus untuk . . . .

17 September 2021

Super Buzz

1 /