Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Buluk Superglad: Dengarkan Semua Jenis Musik

Author : Admin Music

Article Date : 30/01/2022

Article Category : Noize

Hallo ketemu lagi sama gout nih di salah satu artikel Supermusic. Kali ini gua pengin nulis tentang mengapa kita harus mendengarkan semua jenis musik. OK, mari kita mulai. 

Gua dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sama sekali nggak ada keturunan musisinya, bahkan nggak ada yang main alat musik. Tapi dari kecil lingkungan keluarga gua adalah penikmat musik. Dari kecil pula telinga gua sudah dikenalkan oleh bebunyian nada musik yang keluar dari alat pemutar lagu pada saat itu. Setiap pagi langganan musik yang diterima telinga gua adalah lagu-lagu degung Sunda yang diputar bokap sebelum beliau berangkat kerja. 

Nah, jenis musik lain yang gua denger tiap hari berasal dari kamar kakak-kakak gua yang tiap kamarnya beda-beda genre musik. Mulai dari pop kreatif Indonesia kayak Fariz RM atau Dian Pramana Poetra. Lalu kamar lainnya muterin new wave kayak Duran-Duran atau New Order. Pindah lagi ke kamar kakak gua yang lain dengerinnya musik rock kayak Def Leppard, Bon Jovi dan sebangsanya. Nah, gua si anak paling kecil ini akhirnya nyerap semua jenis musik yang tiap hari diputar di rumah gua saat itu. Keseharian di rumah gua itu secara nggak langsung yang ngebentuk jenis musik yang gua sukai ketika beranjak dewasa.

Ada momen ketika gua menyukai musik Indonesia, terutama lagu-lagu Iwan Fals. Lalu berubah jadi menyukai Bon Jovi, dan ketika gua udah mulai sering nongkrong di luar rumah dan bersentuhan dengan lingkungan yang mendengarkan musik yang lebih keras dari yang gua dengar di rumah, akhirnya telinga gua juga teracuni nada-nada distorsi dari band-band ekstrem itu. Akhirnya jatuh cinta pada punk rock. 

Dari semua jenis musik yang gua dengerin dari kecil sampe ABG, akhirnya memang jenis musik punk yang paling nyantol di telinga gua. Genre ini gua kulik lebih dalam daripada genre-genre lainnya. Sementara musik Indonesia malah semakin gua tinggalin pada saat itu. 

Setiap hari di pemutar pita gua hanya band-band punk yang diputar. Band pertama gua pun beraliran punk, yaitu Antiseptic, di mana saat itu gua bermain bass dan belum berani untuk menciptakan lagu sendiri. Jadi gua hanya memainkan lagu-lagu yang dibikin oleh personel lainnya sampai saat gua bergabung di Waiting Room akhirnya gua mulai menciptakan lagu sendiri. Nah, di sinilah keajaiban itu terjadi, wkwkwkwk. 

Saat gua bikin lagu untuk Waiting Room, waktu itu yang muncul di kepala gua nggak cuma nada-nada dari musik punk, tapi semua musik yang dulu-dulu gua dengerin tiba-tiba muncul. Mulai dari rock, new wave, sampe ke lagu-lagu Indonesia yang dulu gua dengar waktu kecil muncul lagi di kepala gua yang akhirnya sedikit banyak berpengaruh ke lagu yang lagi gua bikin.

Dari pengalaman itu akhirnya gua sadar ternyata mendengarkan semua jenis musik itu bagus banget buat jadi referensi saat bikin lagu. Akhirnya, gua nggak pernah mengkotak-kotakkan genre musik, semua jenis musik gua dengerin dari metal sampe disko. Bahkan dangdut pun, kalau menurut telinga gua enak, gua dengerin. 

Ngedengerin semua jenis musik itu kalo menurut gua malah bikin referensi musik lo jadi sangat luas. Dengan referensi yang luas itu, saat lo bikin lagu, lo akan leluasa milih nada-nada yang mau lo pakai yang kemudian lo balut dengan genre musik yang memang mau lo bawain. Lo perhatiin deh, nada-nada lagu ska banyak yang menurut gua dekat dengan nada-nada dangdut yang ceria. Itu ajaib sih menurut gua, bagaimana dua genre berbeda ketika disimak baik-baik ternyata bisa mirip dan tetap keren dengan caranya masing-masing. 

Saat gua mulai jalan dengan Superglad, referensi yang gua ambil, selain pastinya dari band-band punk dan so-called pop punk, nggak bisa dipungkiri gua juga terinspirasi dari nada-nada lagu Indonesia yang gua dengerin dulu waktu kecil. Lagu-lagu ballad di Superglad sangat terpengaruh oleh lagu-lagu dari Om Iwan Fals yang adalah salah satu pahlawan gua di dunia musik.

Lupakan dulu ego lo yang kadang ngerasa gua paling “cult” karena ngedengerin musik-musik yang jarang didengerin orang. Dulu gua juga gitu ngerasa paling keren karena lagu-lagu yang gua denger bukan lagu-lagu yang orang kebanyakan dengerin, wkwkwkwkwk. Akhirnya gua sadar itu malah bikin gua terjebak di genre itu dan nggak bisa ngembangin wawasan bermusik gua. 

Ga ada yang salah dengan mendengarkan musik atau band yang jarang orang dengerin, tapi kalau menurut gua sih akan lebih baik juga kalo kita ngedengerin bermacam jenis musik. Soalnya, jenis musik banyak banget, dan kita harus terus mengeksplorasi. Kalo menurut gua sih, dengan begitu, saat lo bikin lagu, lo sendiri akan muncul tuh banyak gagasan-gagasan nada di kepala lo. Bisa aja akhirnya lagu yang lo ciptakan itu sangat kaya nada dan keren.

Jadi, balik lagi ke masa kecil gua, gua sangat berterima kasih kepada keluarga gua yang secara nggak langsung meracuni telinga gua dengan berbagai macam jenis musik setiap harinya, yang membuat gua bisa menerima bermacam jenis musik dari yang paling ekstrem sampe pop yang mendayu-dayu. Ada yang tahu lagu Shoulder To Cry On-nya Tommy Page? Gua yakin lagu itu pasti nempel di kepala orang-orang yang ngederinnya, mau itu metalhead atau punkrocker. 

Begitu juga dengan lagu Blietzkrieg Bop-nya The Ramones. Orang yang mendengarkannya pasti akan langsung nempel di kepala. Itulah keajaiban nada-nada lagu, mau apa pun genrenya, ketika ramuannya tepat, pasti bakal nempel di kepala. So, kalau boleh gua nyaranin, dengerin semua jenis musik dan jangan pernah mengkotak-kotakkannya, biar wawasan musik lo kaya dan ga terjebak dalam satu jenis musik aja. Selamat berkarya!

“Music is the medicine of mind” -John Logan.

 

Image source: Shutterstock

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Buluk Superglad #Mendengarkan Musik #jenis musik #genre musik

0 Comments

Comment
Other Related Article
Arief Blingsatan: Musik Religi Indonesia dari Masa ke Masa

Arief Blingsatan: Musik Religi Indonesia dari . . . .

25 April 2022

Noize

Semarak Festival di Bali: Tumbuhnya Optimisme Kembali

Semarak Festival di Bali : Tumbuhnya . . . .

20 April 2022

Noize

Yulio Piston: Peran Road Manager, Penting Nggak Penting?

Yulio Piston: Peran Road Manager, Penting . . . .

19 April 2022

Noize

Acum Bangkutaman: Selamat Datang Konser Tatap Muka!

Acum Bangkutaman: Selamat Datang Konser Tatap . . . .

17 April 2022

Noize

Dewo Iskandar: Penunjang Terbentuknya Skena Musik Lokal

Dewo Iskandar: Penunjang Terbentuknya Skena Musik . . . .

11 April 2022

Noize

Buluk Superglad: Soundtrack di Sebuah Film

Buluk Superglad: Soundtrack di Sebuah Film

01 April 2022

Noize

Rudolf Dethu: Kancah Kongkow Rock ‘N’ Roll di Bali 2022

Rudolf Dethu: Kancah Kongkow Rock ‘N’ . . . .

07 March 2022

Noize

Agung Hellfrog: Mengintip Kelebihan Kemper Profiler

Agung Hellfrog: Mengintip Kelebihan Kemper Profiler . . . .

05 March 2022

Noize

Agung Hellfrog: Mana Lebih Keren, Distorsi Ampli atau Distorsi Pedal?

Agung Hellfrog: Mana Lebih Keren, Distorsi . . . .

03 March 2022

Noize

Buluk Superglad: SECOND CITY TERROR!

Buluk Superglad: SECOND CITY TERROR!

22 February 2022

Noize

1 /