Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Dewo Iskandar: Kenapa Masih Ada yang Bilang Enakan Lagu Jaman Dulu?

Author : Admin Music

Article Date : 21/05/2022

Article Category : Noize

Superfriends, kadang gue kangen dengan masa-masa saat gue masih jadi anak SMP-SMA. Saat gue masih mendengarkan kaset tape, entah itu hasil beli sendiri, pinjam dari teman, atau kado ulang tahun. Pulang sekolah, tiduran di kamar, dengar lagu dan sambil baca-baca kertas cover kaset album favorit. 

Pernah juga gue standby dengerin radio hanya untuk mencari-cari jika saja ada lagu kesukaan gue yang diputar, sontak gue langsung rekam lagu itu dengan tape recorder gue supaya nanti bisa didengar lagi. Seiring berjalannya waktu, makin banyak musik yang jadi makanan baru buat gue, tapi tak bisa dipungkiri lagu jaman gue sekolah dulu tetap jadi yang paling melekat. 

Musik gue berkembang dari era musik 90’s, alternative rock, emo, pop melayu, hingga musik mainstream saat ini. Banyak gue temui perdebatan di sosial media bahwa lagu jaman A lebih bagus dibandingkan jaman C. Kadang-kadang sampai jadi debat kusir yang gak ada habisnya. Kira-kira kenapa ya bisa begitu? Gue coba cari tahu kenapa fenomena ini terjadi:

Paparan Masa Pertumbuhan Psikis

Menurut sains, lazimnya manusia mulai menyukai musik pada usia 13-14 tahun dan berhenti mencari musik baru pada umur 30 tahun. Contohnya, waktu kecil gue hidup di sekeliling dangdut karena orangtua musisi dangdut, tapi gue gak dangdut-dangdut amat. Karena semua paparan genre tersebut berhenti ketika orangtua gue bercerai dan gue harus tinggal dengan nenek gue. 

Di sanalah justru gue mulai mendengarkan musik pada era itu (pop Indonesia 90-an). Paparan musik mainstream saat itu sangat kuat karena di sekolah gue dapat hype yang sama dari teman-teman sekelas. Ini menguatkan pendapat sains tadi karena mulai dari umur 13-14 tahun itu otak gue mulai peduli dengan permusikan. Ditambah lingkungan juga ikut meramaikan sehingga itu sangat melekat di otak dan tertanam di psikis gue akan suatu musik tertentu. 

Keluarga dan teman bisa menjadi faktor yang signifikan. Akibatnya, ada banyak orang yang hanya mau mendengarkan musik-musik masa pertumbuhan mereka saja, tidak terbatas musik itu mainstream atau tidak. Karena gue masih menemukan teman satu generasi (gue millenial) yang justru sering mendengarkan The Beatles karena bokapnya cekokin itu tiap hari waktu dia kecil. Kalaupun kita mau mendengarkan musik baru, rasanya musik baru ini tidak selekat musik kesukaan kita dulu pada saat pertama kali menyukai musik. Well, ini normal sih.

Perbedaan Industri Teknologi

Faktor lainnya adalah revolusi industri dan teknologi. Bisa dibilang musik berbasis analog lebih banyak dipakai di generasi baby-boomer hingga millenial. Ini disebabkan karena industri teknologi saat itu lebih mengutamakan penjualan alat musik dan perintilanya yang berbasis analog. 

Kini musik digital lebih didepankan sesuai dengan revolusi industri dan teknologinya. Regenerasi juga berpengaruh besar. Biasanya generasi baby-boomer, gen X, hingga millenial yang cenderung terpapar musik dengan teknologi analog sedangkan musik digital disukai oleh millennial hingga gen Z. Gak percaya? Lihat sekeliling deh. Gue udah jarang menemukan regenerasi rock di kancah musik dunia. 

Dampaknya adalah debat antar generasi. Generasi A cenderung under-estimate musik generasi B karena dinilai kurang relevan sama mereka. Alasan apa pun bisa dicari untuk menguatkan pendapat bahwa musik si generasi B kurang enak. Gue adalah orang yang saat ini tidak percaya dengan statement Freddie Mercury bahwa:

“There will be a time when technology becomes so advanced that we'll rely on it to make music rather than talent. Music will lose its soul.”

Karena kita tahu bahwa musik itu seni, seni butuh penjiwaan sehingga sehebat apa pun teknologinya akan selalu ada musisi-musisi yang akan menuangkan jiwanya lewat musik yang ia buat. Teknologi itu hanya alat. Kalau ada manusia yang melakukan hal sebaliknya, berarti dia sedang menjadi ‘buruh nada’.

Sedikitnya Platform Penyedia Musik

Gue selalu yakin bahwa apa pun yang didapat dengan usaha lebih selalu manis untuk dinikmati. Dulu orang-orang cenderung effort untuk mendapatkan konten musik kesukaannya. Perlu keluar rumah dan pergi ke record store untuk beli kaset atau CD kesukaannya. Media hiburan saat itu juga terbatas. Karena ada usaha secara fisik dan finansial, apresiasi musik orang-orang saat itu jadi sangat besar. 

Satu album bisa didengarkan hampir tiap hari hingga album tersebut benar-benar menyatu dengannya dan dia bisa bilang “LAGU INI GUE BANGET!”. Kini platform musik digital sangat banyak. Hanya dengan menggerakan jempol, kita bisa mendengarkan lagu-lagu kesukaan kita. Ada lagu baru dari artis baru? Tinggal buka akun si artis dan hoopla! Selamat mendengarkan!

Karena musik mudah didapat, musik jadi “murah” untuk orang awam. Apresiasi menjadi tidak sehebat dulu. Mengutip kata-kata seniman pop culture, Andy Warhol: “Di masa depan, semua orang bisa menjadi sangat terkenal hanya dalam 15 menit”. Kemudian, semua orang lupa lagi dan teralihkan dengan konten musik atau non-musik lainnya. Ini relevan dan berpengaruh sangat signifikan dengan cara manusia mengapresiasikan musik saat ini. 

Tapi apa pun generasinya dan apa pun musiknya jangan pernah under-estimate musik tertentu hanya karena kurang suka musik itu. Gue jadi ingat dulu ada teman gue yang mau merekomendasikan band kesukaan dia tapi dengan menjelek-jelekan band kesukaan gue. 

Akibatnya, gue gak mau dengar band itu dan baru dengar beberapa tahun setelahnya dari orang lain. Ya, band itu bagus tapi attitude teman gue enggak. Kalau lo gak suka, mungkin lo tidak se-apresiatif itu atau lo bukan sasaran market bagi musisi tersebut. Tantangan baru bagi kita saat ini adalah cara kita mengaprersiasi musik. Karena percayalah terlepas dari apa pun, good music is good music!

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Dewo Iskandar #Supernoize #pop culture #Pop #Rock

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
Noize

Acum Bangkutaman: Apa Kabar Toko Vinyl?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Arief Blingsatan: “Mods Vs Rockers” Menggerakkan Musik Dunia

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Cooly Rocks On Tour, Rockabali sebagai Kanon Kultur

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Bentuk-bentuk Baru Musik Tradisional Indonesia

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dewo Iskandar: Pilih Ngeband atau Solo?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Stephanus Adjie: Metal Paska Pandemi Bagian 2

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Acum Bangkutaman: Serunya Tur Konser (Bagian 2)

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Mengenal Musik Lewat Video Game

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dinamika Metal Lokal Setelah Pandemi

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Lagu Indonesia: Banyak Hit, Sedikit Evergreen?

Read to Get 5 Point
image arrow
1 /