Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Dewo Iskandar: Penunjang Terbentuknya Skena Musik Lokal

Author : Admin Music

Article Date : 11/04/2022

Article Category : Noize

Superfriends, baru-baru ini gue menonton ulang sebuah film yang berjudul CBGB. Dalam film tersebut, gue melihat bagaimana Hilly Kristal (Allan Rickman) membangun sebuah Bar pusat skena permusikan di daerah Bowery yang dulunya kumuh menjadi tempat ikonik bernama CBGB (Country, Blues Grass and Blues). Lantas gue jadi terpikirkan untuk menulis tentang sebuah skena. Bagaimanakah sebuah skena dapat terbentuk? Apakah itu terbentuk begitu saja? Well, mungkin. Tapi ada beberapa pihak juga yang menopang agar sebuah skena mampu terbentuk dengan kuat, beberapa di antaranya yaitu:

Venue yang Mewadahi

Tidak bisa dipungkiri bahwa di kota atau daerah tertentu membutuhkan sebuah tempat yang mampu mewadahi kreasi para musisinya. Entah itu sebuah art space atau café sekalipun bisa menjadi pilihan untuk berkumpulnya para penggiat seni, musisi, atau audiensnya. 

Hal itulah yang menjadi syarat mutlak terbentuknya sebuah skena permusikan. Tempat di mana para musisi bisa sekadar berkumpul, mengadakan acara musik, bahkan menjadi record store untuk para musisi lokal.

Dahulu tempat yang sempat menjadi wadah tampil bagi permusikan di Jakarta adalah BB’s. Tempat itu mengingatkan gue dengan CBGB yang kini juga telah tiada. Namun seiring perkembangan waktu, mulai banyak lagi tempat-tempat baru yang bisa mewadahi. Gue dan Saptarasa sering berkunjung ke Pavilliun 28 Jakarta Selatan, ada juga MBLOC yang tak jauh dari sana. 

Di beberapa daerah juga terdapat venue-venue atau art space yang memungkinkan banyak band untuk perform. Bahkan, ada juga beberapa tim atau perseorangan yang menjadi semacam agen untuk apabila ada band yang ingin mengadakan tur di kota tersebut. Bisa dibilang ini adalah tempat singgah bagi performa band yang bersangkutan untuk kota tersebut.

Adanya Band yang Menampilkan Lagu Orisinil Mereka

Orisinalitas sangat berperan penting dalam meramaikan sebuah skena. Keberagaman orisinalitas musisi mampu menjadi warna yang sangat seru untuk ditelusuri. Bahkan, bisa dibilang tiap daerah memiliki warna-warna yang berbeda. Di kota besar seperti Jakarta saja sudah banyak ragam musik yang berbeda-beda. 

Jakarta Selatan yang cenderung edgy, Jakarta Utara yang cenderung diwarnai dengan punk, ada juga beberapa daerah lain yang mewarnai dengan genre tertentu. Ada pula band yang juga menunjukkan musiknya dengan kearifan lokal daerahnya.

Lagu yang orisinil dari banyak band mampu menjadi ragam yang menyenangkan untuk diikuti. Dari sana bisa kita resapi bahwa tiap band saja memiliki campaign dan pesannya masing-masing. Perbedaan genre juga mampu menjadi opsi.

Penyelenggara Gigs yang Mampu Memberi Profit Musisi dengan Layak

Di beberapa daerah kerap terjadi adanya beberapa oknum berkedok Event Organizer (EO) yang tidak mampu menghargai karya, keringat dan jerih payah musisinya seakan-akan musik adalah barang murahan. Banyak juga yang berkedok kolektifan, padahal di belakang itu ada profit besar yang masuk ke kantong oknum-oknum tersebut. 

Lebih sedih lagi, ada beberapa EO yang justru melabeli “band sombong” untuk beberapa band yang meminta kelayakan untuk pertunjukannya. Jangankan sound yang layak, bayaran yang layak pun sering dianggap permintaan yang berlebihan.

Di beberapa komunitas atau daerah, budaya ini sering menjadi duri dalam daging. Padahal sebuah band atau musisi juga manusia yang memiliki kebutuhan, misalnya untuk beli senar yang berkualitas baik. 

Ada yang bilang beda kolam, beda pula bayarannya. Ini bukan permasalahan kolam kecil kolam besar, tapi pertunjukan musik juga layanan jasa yang patut dihargai juga. Setidaknya, kalau harganya kurang cocok ya tidak usah memberi cap “band sombong” dan semacamnya terhadap musisi tersebut. 

Kelayakan bayaran musisi cukup berperan penting untuk ekosistem sebuah skena permusikan. Di Indonesia sendiri, pihak penyelenggara acara yang sering membayar dengan layak saat ini sering kali dari brand rokok. Dalam praktiknya, mereka memiliki level profesional dalam menangani sebuah acara musik, baik itu untuk musisinya maupun pihak lain yang terkait.

Adanya Sosok yang Dijadikan Panutan

Kita sebagai orang Indonesia memang sejak kecil diajarkan untuk menghormati orang tua. Itu adalah ajaran yang sangat berguna. Belajar dan patuh pada orang-orang yang sudah berpengalaman sangatlah mempermudah para musisi yang baru terjun atau masih merintis karir musiknya. 

Banyak para sosok yang berkecimpung di dunia musik, baik itu musisi maupun pendukungnya (orang media musik, produser, manajer band dll). Baik ia tua ataupun masih muda namun memiliki sepak terjang yang sudah lebih intens. Musisi pemula membutuhkan sharing, sedangkan para senior ini juga cenderung senang jika sepak terjangnya dahulu mampu menginspirasi generasi saat ini. Sungguh suatu simbiosis mutualisme yang menyenangkan dalam berkesenian.

Media Musik yang Menjadi Jembatan