Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Lagu Indonesia: Banyak Hit, Sedikit Evergreen?

Author : Admin Music

Article Date : 09/06/2022

Article Category : Noize

Istilah lagu hit, dari beberapa kesamaan definisi berbagai sumber selalu mengacu kepada single yang telah dipublikasikan secara luas, ia kerap muncul di tangga lagu resmi lewat radio yang diputar berulang-ulang, penjualan secara komersial atau mengacu ke kondisi hari ini adalah data streaming paling banyak. 

Sedangkan istilah evergreen atau bisa dikenang sampai saat ini justru tidak terlalu banyak informasi yang bisa saya temukan, selain informasi minim bahwa evergreen digunakan dalam konteks musik yang populer dari generasi ke generasi. Di satu sumber minim mengatakan bahwa 25 -40 tahun menjadi batasan dari sebuah lagu disebut evergreen. Kemudian, apa bedanya evergreen dengan sepanjang masa? Dalam konteks bicara tentang sifat, keduanya memiliki sifat yang sama yaitu timeless, tak bisa diukur, meskipun bukan berarti lagu yang tercipta minggu kemarin juga bisa layak dikategorikan sebagai evergreen.

Dalam konteks lagu yang terbaik atau populer sepanjang masa, majalah Rolling Stone Indonesia sempat mengarsipkan setidaknya 150 Lagu Terbaik Sepanjang Masa. Kata Sepanjang Masa ini tentu mengacu kepada lagu-lagu yang sampai hari ini masih dikenal dan didengar dalam medium apapun. 

Contoh lagu-lagu evergreen berceceran seiring garis waktu perjalanan musik. Di era 60-an, kita punya Bus Sekolah dari Koes Bersaudara, Teluk Bayur dari Ernie Djohan atau Surabaya dari Dara Puspita, Di 70-an, pilihannya lebih banyak, mulai dari Lilin-Lilin Kecil yang dipopulerkan Chrisye, Panggung Sandiwara-nya God Bless sampai Begadang milik Rhoma Irama. Di 80-an pun pilihannya lebih banyak lagi. Ada Burung Camar dari VIna Panduwinata, Melayang dari January Christy sampai Pesawat Tempur-nya Iwan Fals. 

Sampai era 90-an, Industri musik punya Siti Nurbaya-nya Dewa19, Bunga Terakhir dari Romeo, Dan dari Sheila on 7 sampai Bebas milik Iwa K, serta Mobil Balap dari Naif. Sementara itu, di era 2000an, ada Senandung Maaf dari White Shoes and The Couples Company, Konservatif dari The Adams, dan Di Sayidan dari Shaggydog masuk dari kategori evergreen atau yang bisa dikenang sampai hari ini.

Pertanyaan yang penting: Apakah lagu-lagu hit hari ini punya kans untuk menjadi populer sepanjang masa atau evergreen? Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya kita melihat perspektif industri musik hari ini bekerja.

Industri musik hari ini tidak bisa lepas dari teknologi digital dan peran media sosial. Keduanya menjadi elemen penting dari tiap entitas musik yang ada, mulai dari musisi, band, label dan lainnya. Tak lupa, kemajuan teknologi rekaman juga menjadi elemen penting yang menjadi biang keladi banyaknya band atau musisi yang merekam musik mereka dengan mudah dan instan di kamar atau di studio kemudian merilis kapanpun mereka mau secara bebas tanpa perlu repot membawanya ke A&R perusahaan rekaman.

Ini sudah tentu berbeda 20 tahun ke belakang, ketika pilihan band hanya sedikit dan akses rekaman dengan teknologi rekaman yang bagus hanya bisa dipunyai oleh satu, musisi yang kaya atau dua, mereka yang beruntung bisa dipinang dan dibiayai penuh oleh perusahaan rekaman.

Ketika itu, televisi, media cetak dan radio menjadi tiga pilar yang dibutuhkan untuk sarana berpromosi. Promo tur adalah kegiatan wajib musisi demi memperkenalkan karya mereka kepada pendengar yang ada di daerah-daerah. Tatap muka menjadi sangat penting demi popularitas juga, dalam hal ini, demi penjualan album.

Sangat berbeda dengan apa yang terjadi hari ini dimana moda penciptaan lagu, distribusi, promosi yang ada sangat berbeda. Moda cipta dan konsumsi lagu secara instan menyebabkan lagu hit langsung diukur dari seberapa banyak streaming di layanan streaming musik digital begitu juga video dari musik/lagu tersebut di Youtube. Ini belum dihitung dengan seberapa banyak lagu-lagu cover lagu tersebut yang ini kemudian berpengaruh kepada jumlah followers si artis di media sosial sampai akhirnya menentukan seberapa banyak penonton yang datang menonton konser dari artis tersebut.

Mungkin polanya bisa berubah, bisa ditarik dari seberapa sering si artis manggung menyanyikan lagu tersebut sampai pendengar bisa terpapar dan akhirnya berpengaruh kepada jumlah streaming yang kemudian menjadikan lagu-lagu seperti Hati-hati di Jalan dari Tulus, Peradaban dari .Feast sampai Variasi Pink-nya Jason Ranti bisa mencapai status hit.

Namun, apakah lagu-lagu tersebut punya kans untuk berada di liga evergreen seperti lagu-lagu yang telah saya sebutkan di atas?

Jawabannya bisa ya atau tidak, tergantung dari akan seberapa orang masih mau mendengar lagu-lagu tersebut di layanan streaming selama sepuluh atau duapuluh tahun lagi? Pun apakah kita masih menemukan moda penjualan dan distribusi serta promosi musik yang sama atau ada moda-moda baru yang berbeda dari sekarang? Atau yang lebih sadis lagi, apakah ada muncul tren musik global yang berpengaruh kepada penulisan dan moda industri musik Indonesia di masa yang akan datang?

Di era musik dengan perputaran lagu yang serba cepat seperti sekarang, saya ragu apakah lagu-lagu yang sama akan terus didengar ulang ketika ada lagu-lagu hit lainnya yang lebih bagus dari apa yang ada sekarang.

Moda penjualan dan distribusi yang berubah menurut saya akan berpengaruh kepada budaya bagaimana musik bisa didengarkan dan dinikmati. Misal, apabila ke depan ternyata kita kembali lagi ke budaya menikmati fisik lewat fisik dan promosi di radio dan televisi, menjadi bagian dari konten film, sinetron, dll maka tidak menutup kemungkinan bahwa lagu-lagu hit akan punya potensi untuk jadi evergreen.

Kemudian soal tren musik, jika ada satu tren genre musik global yang mungkin tidak cocok dengan kultur musik populer Indonesia, ini juga akan berpengaruh kepada lagu-lagu yang diciptakan di era itu atau era-era sebelumnya. Kans untuk lagu-lagu yang telah tercipta di era sebelumnya akan berpotensi untuk pudar karena pendengar akan tersita dengan lagu-lagu baru yang mengikuti tren tersebut. 

Terakhir, dengan kondisi bahwa lagu-lagu hari ini belum bisa teruji secara waktu ditambah minimnya pencatatan atau pengakuan dari media seperti yang saya terangkan di atas, maka lagu-lagu yang tercipta hari ini masih belum bisa disebut evergreen.

Mungkin terdengar klise, Tapi semua tergantung kepada perubahan .Di balik itu, kita tidak tahu misteri bagaimana sebuah lagu memang benar-benar bisa terpapar dan membekas kemudian menjadi tak lekang di telinga dan sanubari pendengarnya.

Kans mungkin sedikit, namun we still have hopes, Superfriends!

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Supernoize #acum bangkutaman #Evergreen #Lagu Hit

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
Noize

Acum Bangkutaman: Apa Kabar Toko Vinyl?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Arief Blingsatan: “Mods Vs Rockers” Menggerakkan Musik Dunia

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Cooly Rocks On Tour, Rockabali sebagai Kanon Kultur

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Bentuk-bentuk Baru Musik Tradisional Indonesia

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dewo Iskandar: Pilih Ngeband atau Solo?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Stephanus Adjie: Metal Paska Pandemi Bagian 2

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Acum Bangkutaman: Serunya Tur Konser (Bagian 2)

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Yulio Piston: Mengenal Musik Lewat Video Game

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Dinamika Metal Lokal Setelah Pandemi

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
Noize

Kilas Balik: Mengunjungi Situs-Situs Musik Terpenting Di Belanda

Read to Get 5 Point
image arrow
1 /