Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Reset Password

Please choose one of our links :

Author :

Article Date : 27/07/2017

Article Category : Super Buzz

Kesehatan mental dan rock n’ roll memiliki sejarah kelam yang memilukan. Kisah para musisi rock dengan masalah kesehatan mental yang berakhir tragis adalah lubang hitam besar, berisi kisah sedih dan perjuangan.

Penyebab masalah kesehatan mental tersebut tidak bisa ditunjuk ke satu titik tertentu, melainkan disebabkan oleh beragam kondisi. Kondisi kimiawi tubuh, lingkungan sosial, trauma maupun latar belakang masa tumbuh-kembang bisa menjadi penunjuk awal kondisi mental seseorang.

[bacajuga]

Menurut solois Helienne Lindvall dalam kolomnya yang membahas tentang masalah kesehatan musisi, faktor seperti keinginan untuk diterima dan dicintai oleh penonton juga dapat menjadi penting. Lindvall juga menggarisbawahi bahwa perasaan kosong usai tampil di panggung dan menjalin ‘hubungan’ dengan ratusan penonton, tidak bisa dianggap remeh. Perasaan itu dapat berujung pada ketidakpuasan, patah hati dan rasa kecewa.

Lindvall juga menulis paradoks antara kecenderungan gangguan kesehatan mental dan kesenian. Ia menulis bahwa orang dengan masalah kesehatan mental, terutama di spektrum depresi, umumnya tertarik berkarya di bidang seni. Kondisi mereka tidak didiagnosis dan dirawat oleh profesional di bidangnya, bahkan ada anggapan bahwa kondisi tersebutlah yang menjadi ‘sumber inspirasi’ dalam berkarya. Lewat pola pikir tersebut, ada juga ketakutan jika merilis karya yang buruk mereka akan kehilangan audiens dan akhirnya, mata pencaharian.

Kadangkala penderitaan dan kualitas karya memang berbanding lurus, tapi bukan berarti proses tersebut harus dianggap sebagai satu-satunya pilihan proses berkarya. Nyatanya, gangguan kesehatan mental bukanlah kondisi yang baik dan menyenangkan. Beberapa musisi hebat memang berani menjelajahi spektrum tergelap kondisi manusia, tapi mereka (yang berhasil hidup dan berkarya lebih lama) tidak serta-merta menjadikan ruang tersebut sebagai rumah mereka. Kesehatan mental adalah hal penting yang tidak bisa dianggap remeh. Stabilitas kesehatan mental, bagaimanapun sulitnya dicapai, harus diusahakan baik lewat terapi atau metode medis lainnya. Berikut adalah para musisi rock yang bergelut dengan gangguan mental mereka dan berhasil lolos dengan selamat.

1. Billy Corgan

Vokalis/gitaris The Smashing Pumpkins ini mengaku sempat mengalami episode depresi setelah album Nevermind (Nirvana) dan Ten (Pearl Jam) dirilis. Dua album tersebut mengubah wajah rock alternatif, ranah yang sebelumnya ia kuasai di era Gish (1991). Corgan mengaku sulit menulis lagu dan sempat berpikir untuk bunuh diri dengan terjun dari apartemennya. Selain itu, ia juga memberikan barang miliknya (gitar dan koleksi piringan hitam) ke orang lain dan mulai menulis surat perpisahan.

“Harapan dan peran yang sudah saya bayangkan pada saat itu jadi tidak relevan lagi. Saya mengalami depresi yang cukup aneh, bukan karena saya kehilangan sesuatu, tapi justru karena perubahan tersebut membuat saya merasa jelek dengan cara yang tidak saya perkirakan sebelumnya.”

“Di suatu pagi saya bangun dan mulai memandangi jendela. Kemudian saya berpikir, ‘Jika saya memang ingin benar-benar terjun maka saya harus membereskan kewajiban saya. Seingat saya, pagi itu saya menulis ‘Today’, lagu yang terdengar akrab. Seperti lagu pengiring video yang diputar tukang es krim. (Lagu) itu semacam opini miring tentang bunuh diri, tapi esensi liriknya justru berbicara tentang bagaimana kita bisa menjadikan tiap harinya sebagai hari terbaik,” jelas Corgan.

2. Brian Wilson

Sebagai komposer utama The Beach Boys, kondisi Wilson sudah dikenal publik sejak era Pet Sounds (1966). Sejak umur 25 tahun, ia mengidap depresi dan gangguan skizoafektif, yang memaksa Wilson mendengar ‘suara-suara’ lain di kepalanya

“Saya tidak bisa mengusir halusinasi auditorik yang berlangsung sepanjang hari di dalam kepala saya. Setiap beberapa menit sekali suara-suara itu menghina saya, seperti, ‘Kamu akan mati sebentar lagi’, dan saya harus terus-menerus berurusan dengan pikiran-pikiran buruk sejenis itu,” tutur Wilson.

Sejak berobat diumur 40 tahun, ia justru bisa menulis dan bermain musik dengan konsisten, serta dapat merasa lega atas kondisi mentalnya. Sikap Wilson turut mementahkan mitos bahwa kualitas karya berjalan setara dengan gangguan kesehatan mental.

“Sekarang saya bisa bermain musik setiap hari. Sebelumnya, saya cukup lama menghabiskan waktu tanpa sanggup melakukan apapun. Menyelesaikan album SMiLE dua tahun yang lalu adalah pencapaian terbesar saya,” ujar Wilson.

3. Eric Clapton

Gitaris blues legendaris ini adalah seorang alkoholik. Gangguan kesehatan mental itu terbilang berbahaya, karena kesehatannya menurun dan ia menjadi penyendiri karena gangguan tersebut. Para karib Clapton, termasuk Pete Townshend (gitaris The Who), akhirnya membantunya untuk sembuh dan menyiapkan terapi untuk Clapton.

Clapton sempat mengalami masa-masa sulit sebelum berhenti minum alkohol pada pertengahan 80-an dan sembuh dari alkoholisme pada tahun 1989. Di masa tersebut, Clapton menulis bahwa ia sempat terpikir untuk bunuh diri dalam otobiografinya. Satu-satunya hal yang mencegahnya melakukan bunuh diri adalah ketika ia sadar tak akan bisa minum alkohol lagi setelah ia meninggal.

“Saya kira ada elemen unik dari budaya meminum alkohol, ketika saya mabuk, saya merasa tergabung dalam suatu komunitas misterius. Saya merasa bisa melakukan semua hal sendirian karena hal-hal picik yang terjadi di masa kecil saya. Saya tidak meminta pertolongan hingga saya cukup tua,” ucap Clapton.

4. Eddie Vedder

Ia adalah satu-satunya vokalis yang tersisa dari Empat Ombak Besar Grunge. Namun perjalanan Vedder juga tidak semulus yang dibayangkan banyak penggemarnya. Pada tahun 2009, Vedder menggambarkan ketenaran rockstar terasa seperti “diikat ke roket, walau bagi beberapa dari kami merasa tak siap akan kecepatannya.”

“Salah satu alasan kita melindungi diri sendiri adalah betapa jujurnya emosi yang kita ekspresikan. Jadi kita harus membangun sebuah tembok, kemudian banyak orang mencoba menembus tembok itu. Hal itulah yang mengacaukan kepalamu,” ujar Vedder.

Lalu apa yang membedakan Vedder dengan sejawatnya yang telah berpulang? Ia menganggap insting bertahan hidup sebagai faktor pembeda utama. Vedder menganggap perjalanan dari nol yang disertai kejujuran dalam berkarya adalah salah satu hal tersulit dalam karier seorang musisi.

Walau demikian, ia juga pernah mengalami episode depresi yang mengharuskannya meminta pertolongan profesional (khususnya suicide hotline). Selain itu, Vedder juga berpegangan teguh pada musik yang ia geluti, dengan atau tanpa Pearl Jam.

“Mereka senang menolong orang, mereka akan meninggalkan segalanya demi itu. Ada orang-orang di luar sana, kadangkala mereka adalah orang asing dalam sambungan telepon, yang mendedikasikan hidup mereka untuk membantu orang-orang yang sedang kesulitan. Saya tidak sedang berbicara tentang satu orang. Musik juga bisa membantu kita. Beberapa orang bilang bahwa mereka terbantu oleh musik kami,” ujar Vedder.

Dan, ketika ditanya bagaimana seandainya Pearl Jam bubar keesokan hari, ia menjawab dengan lantang, dramatis, sekaligus pragmatis.

“Saya akan membawa pulang gitar saya,” tutup Vedder.

5. ‘Geezer’ Terry Butler

Salah satu ‘lagu kebangsaan’ heavy metal adalah cerita tentang gangguan kesehatan mental. Single “Paranoid” (1970) dari Black Sabbath mengisahkan tentang kondisi psikis sang bassis, Terry Butler, yang tengah bertarung dengan depresi. Butler mengaku sering menyakiti badannya sendiri, karena hanya lewat cara itulah ia dapat bangkit dari rasa depresi.

“Mungkin saya sudah lama mati jika saja Sabbath tidak mencapai kesuksesan,” ujar Butler.

Salah satu yang menyembuhkan Butler adalah persahabatannya dengan personel Black Sabbath. Menurut keterangan Ozzy Osbourne, Butler cenderung lebih tenang sejak reuni formasi pertama dan saat menghadapi kondisi Iommi yang memburuk akibat kanker tenggorokan, pada tahun 2012.

“Dia sudah banyak berubah. Biasanya dialah Darth Vader di band kami. Kami menuruti semua kemauannya. Namun sekarang ia kini jauh lebih rendah hati. Kita akan sangat tergoncang ketika mendengar seseorang terkena kanker,” ucap Osbourne.

6. John Frusciante

Di balik pembawaannya yang tenang, Frusciante sudah mengidap depresi akut sejak pertengahan 1992, saat ia pertama kali mundur dari Red Hot Chili Peppers. Pada saat itu Frusciante menganggap ia tak sanggup lagi menulis musik dan bermain gitar.

Di saat yang sama, Frusciante mulai kecanduan heroin. Dalam wawancara dengan majalah SPIN pada tahun 2002, Frusciante menganggap heroin sebagai obat. Ia menganggap narkotika sebagai “satu-satunya jalan untuk terhubung dengan keindahan, ketimbang membiarkan jiwa kita dikotori oleh dunia luar.”

Bagi Frusciante, pemicu terbesar depresinya adalah ketika ia berhenti mengasah kemampuannya sebagai musisi. Pemicu tersebut pertama kali terjadi saat ia menjalani tur album Blood Sugar, Sex Magik (1991).

“Setelah menjalani tur itu selama beberapa bulan, saya merasa gagal, seperti, ‘Sebelumnya saya berbakat, tapi sekarang itu semua sudah berakhir’. Cukup gila mengingat waktu itu saya baru berumur 22 tahun, tapi waktu itu terasa seperti sebuah akhir bagi saya. Saya benar-benar menyerah, dan tak memikirkan pilihan lain seperti ‘pulang dan kembali menekuni musik’. Saya betul-betul sedih karena saya merasa dipisahkan dari sumber kebahagiaan. Tapi semenjak tahun 1998, saya pasti terus tenggelam dalam musik dan hal itu belum pernah membuat saya kecewa. Saya terus berkembang sejak saat itu.”

Di awal tahun 1998, Michael ‘Flea’ Balzary mengancam akan keluar dari Red Hot Chili Peppers kalau personel lainnya tak membujuk Frusciante untuk bergabung kembali. Ternyata usaha tersebut membuahkan hasil; Frusciante berhasil keluar dari depresi dan musik Red Hot Chili Peppers kembali terdengar segar.

“Cara mereka menyambut saya kembali, membuat saya merasa nyaman. Padahal waktu itu kemampuan saya sangatlah minim, tapi mereka tak mempermasalahkan hal itu, yang penting adalah semangat dan kehadiran saya. Ketika tak ada seorangpun mendukung saya, dikelilingi kawan-kawan yang sangat mempercayai diri kita sendiri sangatlah melegakan,” ucap Frusciante.

7. Michael Stipe

Stipe sempat mengalami pengalaman traumatik akibat depresi pada akhir 80-an hingga awal 90-an. Vokalis REM ini mengidap bulimia, mengalami depresi, dan serangan kecemasan akut karena ia takut terjangkit AIDS. Pada periode ini, banyak sejawat Stipe terjangkit AIDS. Ia pun cemas lantaran tak bisa menjalani tes HIV secara anonim karena statusnya sebagai vokalis REM.

“Pada saat itu, orang-orang tidak biasa berbicara soal depresi. Ada rasa ngeri dan paranoid yang hinggap tiap kali saya terkena flu, sampai akhirnya saya bisa menjalani HIV secara anonim,” ucap Stipe.

Stipe pun akhirnya menemukan cara yang tepat untuk menghadapi depresi. Ia juga menyarankan cara ini pada Thom Yorke.

“Ketika keadaanmu memburuk, berhentilah memedulikan lingkungan sekitar. Jangan pergi ke mana-mana, diam saja sudah cukup,” ucap Stipe

8. Poly Styrene

Marianne Joan Elliot-Said adalah vokalis X-Ray Spex, salah satu band pionir kancah punk Los Angeles, ia tampil dengan nama panggung Poly Styrene. Sejak tahun 1991, Marianne divonis mengidap gangguan bipolar dan di tahun yang sama ia pun tertabrak mobil pemadam kebakaran. Pada tahun 2010, Marianne juga divonis mengidap kanker payudara. Penyakit tersebut akhirnya merenggut nyawanya di tahun 2015.

“Bergelut dengan gangguan bipolar sangatlah sulit, tapi begitulah hidup. Pada saat itu, untungnya saya bisa tetap kreatif, merekam album baru, dan untungnya kanker itu belum menyerang saya. Kanker memang telah menyulitkan hidup saya, tapi hari demi hari saya mampu menghadapinya,” jelas Marianne.

9. Ray Davies

The Kinks dikenal sebagai salah satu grup rock terbesar dari Inggris dengan duo Ray-Dave Davies, kakak beradik yang terkenal tidak akur. Namun, tak banyak yang tahu kalau Ray mengidap gangguan bipolar dan pernah mencoba bunuh diri.

“Saat saya ingin bunuh diri, saya menenggak sebotol obat penenang setelah baru saja selesai tampil. Namun saya berubah pikiran. Saat itu saya tampil bergaya dandy dan bagi orang lain mungkin saya terlihat seperti badut. Bahkan badut pun pernah mengalami hari yang buruk,” ujar Davies.

10. Rivers Cuomo

Salah satu titik terendah dalam karier Weezer adalah di awal dekade 2010, ketika angka penjualan mereka menurun drastis.

“Pada saat itu band-band rock gampang depresi. Kami pernah berada di satu label, di mana presidennya akan bilang, ‘Rock telah mati’, tiap kali kami menemuinya.”

“Mereka bahkan sama sekali tidak tertarik merilis album kami. Kami juga tidak bisa menyalahkan mereka, karena eranya memang sedang berakhir,” pungkas Cuomo.

Periode tersebut bukanlah pertama kalinya Cuomo mengalami gangguan kesehatan mental. Ia sempat mengalami depresi setelah Weezer merilis Pinkerton (1996).

Cuomo menganggap album tersebut sebagai ‘produk gagal’. Ia akhirnya keluar dari gangguan mentalnya dengan cara menulis lagu.

“Saya mencoba menulis lebih banyak lagu untuk album ke-tiga, tapi media menganggap Weezer sebagai band one hit wonder. Tentunya setelah itu semakin banyak saya menulis lagu, saya semakin merasa gila. Saya terserang panic attack dan gangguan saraf sedang. Ketika semua orang sudah melupakan Weezer, lagu ini (‘Working Overtime’) tiba-tiba meledak di kepala saya,” ujar Cuomo.

11. Syd Barrett

Syd Barrett adalah salah satu kisah tragis rock n’ roll paling terkenal. Ia adalah vokalis dan salah satu pendiri Pink Floyd. Barrett meninggalkan grup tersebut di tahun 1968, setelah perilakunya semakin aneh. Ia juga dikenal sering menggunakan substansi halusinogen dan narkotika, kebiasaan yang memperburuk kesehatan mentalnya.

Walaupun secara resmi Barrett tidak pernah divonis mengidap gangguan kesehatan mental, banyak sejarawan musik berspekulasi ia mengalami gangguan bipolar atau skizofrenia.

“Menurut saya, gangguan mentalnya akan terjadi cepat atau lambat. Gangguan itu mengakar dalam dirinya. Saya juga menganggap pengalaman psikedelik yang ia lakukan sebagai pendorong gangguan tersebut. Pada akhirnya, ia sepertinya tidak bisa menangani ketenarannya dan hal-hal yang menyertainya,” jelas David Gilmour yang direkrut untuk menggantikan Barrett.

Tema dan lirik Pink Floyd pasca Barrett banyak berbicara tentang gangguan mental, terutama Dark Side of the Moon (1973) dan Wish You Were Here (1975), sebuah album tribute untuk Barrett. Setelah mundur dari Pink Floyd, Barrett masih merilis dua album sebelum menghabiskan hidup sendirian untuk melukis dan berkebun. Barrett meninggal pada tahun 2006 setelah menderita kanker pankreas.

12. Roky Erickson

Seperti Syd Barrett, Erickson adalah figur penting psychedelic rock. Grup bentukannya, 13th Floor Elevators adalah pionir sound legendaris tersebut. Selain itu, mereka juga terang-terangan mengaku dan menganjurkan penggunaan substansi halusinogen. Pada tahun 1969, ia ditahan karena kepemilikan ganja. Peristiwa ini ternyata menjungkirbalikkan hidup Erickson hingga kini.

Erickson mengaku tidak bersalah dan mengajukan permohonan pembatalan sidang atas alasan kegilaan. Pria berjanggut tebal ini kemudian dikirim ke Rusk State Hospital, rumah sakit jiwa khusus pelaku kejahatan dengan gangguan mental. Ia divonis menderita skizofrenia dan menjalani pengobatan berdosis tinggi dan terapi listrik selama beberapa tahun.

Sejak dibebaskan pada tahun 1972, ia beberapa kali merilis album yang diselingi pertarungan dengan gangguan mentalnya. Erickson meyakini tubuhnya dihuni oleh alien dan sempat ditahan karena mencuri surat tetangganya, kemudian menempelkan surat-surat itu ke tembok rumahnya. Memasuki dekade 2000, kondisi Erickson terbilang stabil dan sempat menggelar tur Night of the Vampire bersama The Black Angels pada tahun 2008.

13. Sinead O'Connor

O’Connor dikenal vokal menyuarakan perjuangan orang dengan gangguan kesehatan mental. Penyanyi asal Dublin, Irlandia, ini sempat salah terdiagnosis mengidap gangguan bipolar saat ia berumur 30 tahun. Ia diresepkan lithium, obat anti-psikotik berdosis tinggin untuk pengidap bipolar. O’Connor mengonsumsi lithium selama delapan tahun sampai akhirnya ia didiagnosis mengidap gangguan stress pasca trauma.

O’Connor sejak saat itu mulai menjalani proses menuju kesembuhan yang lambat. Ia menganggap stigma tentang gangguan kesehatan mental menghalangi banyak orang untuk menangani masalah mereka.

“Kita tahu bahwa orang lain akan memperlakukan kita seperti kotoran ketika kita mengaku mengidap hal yang dikenal sebagai penyakit kejiwaan. Itulah mengapa di luar sana orang-orang meninggal, karena mereka tak bisa mengutarakan masalahnya,” ucap O’Connor.

14. Thom Yorke 

Motor kreatif Radiohead ini menderita hypomania, kondisi ini terjadi dalam dua fase. Pertama, terjadi perubahan suasana hati, meningkatnya kemampuan berbahasa, akselerasi pemikiran dan kreativitas. Fase kedua hypomania adalah depresi. Gangguan ini mencapai puncaknya saat York menjalani tur OK Computer, selama berhari-hari ia mengisi berlembar-lembar catatan, tanpa bisa berhenti atau kembali ke kehidupan normal.

“Masa-masa itu adalah sebuah perjuangan. Semuanya begitu meledak-ledak di era OK Computer, dan saya belum benar-benar memperhatikan hal ini sampai saya menjadi katatonik (tak bisa bicara dan bergerak). Biasanya saya tak bicara sama sekali begitu turun dari panggung, dan itu bukan semata-mata soal gegar ketenaran. Rasanya lebih seperti, saya tidak paham sama sekali apa yang orang-orang ini inginkan dari saya,” jelas Yorke.

Yorke akhirnya bisa mengakali kondisinya dengan bekerja secepat mungkin. Ia mengerjakan materi album Hail to the Thief (2003) bersama Nigel Godrich (produser) selama dua minggu. Biasanya Radiohead, terutama Yorke, menghabiskan satu tahun untuk mengerjakan materi album. Ia juga menyiapkan rutinitas khusus untuk tetap dalam kondisi stabil, yaitu berlari, yoga, dan meditasi.

“Umur saya sekarang 44 tahun. Saya sempat berpikir, kapan saya bisa menikmati semua ini kalau bukan sekarang?,” ucap Yorke pada tahun 2013.

15. Trent Reznor

Sebagai seorang musisi semi-solois, kondisi Reznor tercermin dari musiknya. The Downward Spiral (1998), dikenal sebagai album paling depresif yang pernah menyabet Grammy, adalah gambaran mental tentang kondisi Reznor pada saat itu.

“Album itu terasa membuat saya merasa seperti memiliki lubang tak berdasar yang berisi amarah dan kebencian akan diri sendiri. Dan saya harus melawannya atau saya akan meledak. Tadinya saya pikir saya bisa melalui periode ini dengan mengubahnya menjadi musik, dengan berdiri di depan penonton dan meneriakkan emosi saya. Tapi tak berapa lama kemudian saya tidak bisa mengendalikannya, akhirnya saya dikendalikan narkotika dan alkohol,” jelas Reznor.

Reznor sempat berkonsultasi dengan psikiater, walau akhirnya ia berhenti. Ia merasa tidak cocok dan tidak ingin mengonsumsi obat-obatan anti-depresan. Bagi Reznor, pelajaran terpenting dari proses tersebut adalah menyadari bahwa ia tak lagi menyukai dirinya sendiri, serta ada beberapa hal yang harus ia terima dengan lapang dada.

Demi perubahan suasana, Reznor pindah rumah, mulai mengerjakan musik lagi dan menyelesaikan masalah mentalnya satu per satu.

“Saya hanya butuh waktu untuk duduk dan memikirkan hidup. Saya harus menampar diri sendiri. Saya berpikir, ‘Jika saya memang ingin bunuh diri, jangan merepotkan orang lain, atau mulai selesaikan masalahmu dari sekarang.”

“Sekarang saya senang karena tak lagi merasa seperti itu. Lewat proses penyembuhan itu saya terpaksa belajar untuk mengenali bahwa ada masalah di badan saya, keseimbangan kimiawi di otak saya agak kurang seimbang. Album (Hesitation Marks) ditulis sebagai catatan dari sisi lain proses tersebut. Saya kini bisa mengekspresikan perasaan putus asa, kesepian, kemarahan dan keterasingan di dalam diri saya dengan tepat. Kini, amarah dalam diri saya pun cenderung lebih tenang,” papar Reznor pada tahun 2013.

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Musisi dengan Gangguan Mental #Musisi Depresi #Mental Illness #Mental Disorder #Kesehatan Mental #Musisi Bunuh Diri #Billy Corgan #Brian Wilson #Eric Clapton #Eddie Vedder #Geezer Butler #John Frusciante #Michael Stipe #Poly Styrene #Ray Davies #Rivers Cuomo #Syd Barrett #Roky Erickson #Sinead O'Connor #Thom Yorke #Trent Reznor #Music List

0 Comments

Comment
Other Related Article
Pentingnya Paham Pengertian Artikulasi dalam Bernyanyi

Pentingnya Paham Pengertian Artikulasi dalam Bernyanyi . . . .

27 September 2021

Super Buzz

Gelar Konser, The Script Rilis Album Kompilasi Untuk Pemanasan

Gelar Konser, The Script Rilis Album . . . .

27 September 2021

Super Buzz

Warna Baru Bilal Indrajaya Tertuang di “Niscaya”

Warna Baru Bilal Indrajaya Tertuang di . . . .

27 September 2021

Super Buzz

8 Band Rock yang Tak Pernah Ganti Personel Hingga Sekarang

8 Band Rock yang Tak Pernah . . . .

26 September 2021

Super Buzz

Corey Taylor Tinggal Rekam 3 Lagu, Album Baru Slipknot Segera Rampung

Corey Taylor Tinggal Rekam 3 Lagu, . . . .

26 September 2021

Super Buzz

Gavendri Gandeng Endah N Rhesa di Single ‘Should I’

Gavendri Gandeng Endah N Rhesa di . . . .

26 September 2021

Super Buzz

Jangan Rekam Cover Lagu tanpa 5 Alat Ini

Jangan Rekam Cover Lagu tanpa 5 Alat Ini

25 September 2021

Super Buzz

Enola Mantap Merilis EP “Does Anyone Else”

Enola Mantap Merilis EP “Does Anyone Else”

25 September 2021

Super Buzz

Cara Explosions In The Sky ungkapkan Cinta Ke Kampung Halaman

Cara Explosions In The Sky ungkapkan . . . .

25 September 2021

Super Buzz

Menilik Sejarah dan Perkembangan Musik Country

Menilik Sejarah dan Perkembangan Musik Country

24 September 2021

Super Buzz

1 /