Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Rudolf Dethu: Storytelling, Hal Genting, Lagi Penting

Author : Admin Music

Article Date : 29/11/2021

Article Category : Noize

Salah satu momen paling favorit ketika kita masih kecil adalah didongengi—storytelling—oleh ayah ibu sebelum terbuai mimpi. Tentang candi yang dibangun hanya dalam semalam, kisah sendu Upik Abu, Piet Hitam karib Sinterklas, si Bungkuk dari Notre Dame dilanda kasmaran, dan petualangan Guliver di negeri para liliput. Selain manjur menjadi pengantar tidur, segala cerita itu lekat membekas di benak kita. Terbawa hingga dewasa, bahkan punya andil dalam membentuk diri kita.

Menurut sebuah penelitian saraf di National Institute of Child Health and Human Development, di Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa mendongeng kepada anak sebelum tidur bisa memicu peningkatan perkembangan otak. “Ada indikasi yang jelas perbedaan neurologis antara anak-anak yang teratur dibacakan cerita dengan yang tidak.” 

Dibacakan cerita fiksi dapat mendongkrak imajinasi serta logika anak-anak, membantu pengembangan kemampuan literasi sejak dini, selain itu juga berperan untuk meningkatkan fungsi otak pada berbagai tingkatan. Ibaratnya, imajinasi yang berkembang saat didongengi sama seperti berkembangnya otot yang terus dilatih saat berolahraga.

Hingga dewasa pun sejatinya kita masih doyan disuguhi epos kepahlawanan lara-lalu-jaya, kasih tak sampai, kiat dan siasat, kisruh antar personel band, kematian rock stars, rupa-rupa kisah yang menginspirasi atau malah demotivasi. Intinya ada pada kekuatan kisah, mampu menumbuhkan hubungan erat, memantik dialog, menciptakan keterikatan atau engagement antara narator dengan audiens. 

Dalam konteks musikal, kepiawaian berhikayat amatlah signifikan. Dari situ kita bisa membangun jembatan kedekatan dengan khalayak. Paling tidak mereka bakal memberi sedikit atensi, tergerak menunjukkan sikap ketertarikan terhadap produk yang kita publikasikan. Semisal sedang bersama band berkeliling beberapa metropolitan di Jawa dan kalian sempat singgah sebentar untuk berpose (foto dan/atau video) di Gedung Sate di Bandung. 

Akan berbeda gegarnya saat kamu unggah ke media sosial lalu diberi keterangan sekadarnya saja macam “Gedung Sate, Bandung, November 2021” dengan kamu bubuhi kata pengantar sedikit lebih panjang semisal “Kemarin, kala Java Metropolitans Tour 2021 dan melintasi kota Bandung, kami sempatkan stop sebentar di Gedung Sate untuk jeprat-jepret. Lupakan rasa lelah sebentar, ini bangunan bersejarah, kami grup musik rock ’n’ roll yang Jasmerah—jangan sekali-sekali melupakan sejarah!”

Foto: Michael Putland.

Perhatikan bagaimana gaya storytelling fotografer legendaris Michael Putland mengambil sudut pandang berbeda kala menceritakan sepenggal perjalanannya bersama The Cure di sebuah kota di Brasil. Pada foto biduan The Cure, Robert Smith, yang sedang duduk sendirian ia tulis: “Waktu itu saya sedang di Brasil bersama wartawan Johnny Black meliput untuk majalah Q tur Amerika Selatan-nya The Cure. Di pertengahan, antara jadwal konser di Belo Horizonte dan Rio de Janeiro, menyusuri jalanan sempit, curam menyeramkan, kami berhenti di sebuah desa. Saya merasa wajib mengingatkan Robert bahwa gincu di bibirnya mulai berlepotan. Dia memandang saya tajam, terpana, tanpa mengucap satu patah kata pun. Seolah mengingatkan saya bahwa memang arah dandannya seperti itu.”

Nah, dari situ saja kita bakal tahu caption yang mana yang paling bisa engage dengan publik. Skenarionya kira-kira begini: foto dengan keterangan pendek hanya dilihat sepintas (kecuali band kamu Guns N’ Roses); 

foto kedua ada kemungkinan lebih lama diberi atensi sebab terdapat penjelasan yang memberi audiens bayangan lebih lengkap; sementara foto dengan kata pengantar seperti ditulis Michael Putland tadi, hampir pasti paling berhasil menggaet perhatian pemirsanya karena fokusnya justru pada gincu Robert Smith, (terkesan) ringan dan remeh temeh namun menggelitik membuat kita sedikit ngikik oleh selera humor Putland yang menertawai dirinya sendiri. Di saat yang sama, jika jeli diperhatikan, di paragraf tersebut, Putland sejatinya juga suda lengkap mencakup 4W 5H (What, Who, When, Why, How). What: South American tour; Who: Robert Smith - The Cure; When: di masa silam; Why: gincu Robert Smith berlepotan; How: Putland mengambil inisiatif mengingatkan, Smith merespons bahwa gaya Goth memang demikian.

Satu contoh lagi, dari apa yang saya sendiri tulis ketika merayakan Hari Musik Nasional, saya pakai video lagu Shaden “Dunia Belum Berakhir”. (Iya, terkesan) ringan namun sejatinya di dalamnya ada babad punk rock Bali di masa lalu serta relevansinya dengan “Dunia Belum Berakhir”. Pun cara berceritanya tidak dibuat “ngerik” walau sejatinya esensinya historikal. Memang sengaja, agar pembaca tidak merasa sedang didikte, muncul perasaan tergelitik, lalu berinisiatif berkomentar, dialog kemudian bingar terjadi. Artinya: engagement sukses. 

Dunia Belum Berakhir


Boleh percaya awas tidak, tembang power pop "Dunia Belum Berakhir" oleh Shaden yang dirilis di tahun 2000 ini punya peran lumayan signifikan di skena punk rock Bali Selatan, utamanya Twice Tape Shop (jalan raya Legian).

Signifikan dalam makna "Dunia Belum Berakhir" kerap dimainkan sebagai penyegar kala para pemain band yang hadir dan sedang latihan atau kongkow-kongkow merasa bosan/kemabokan/penat dibombardir punk rock. Udah deh, lagu yang mengingatkan pada Paramore campur The Go-Go's dengan vokal cadel ini langsung digeber, walau gak hafal-hafal banget, kita jalan terus. Yang penting sensasi girang dijaga: body movin', jump up jump up, mimicking Shaden.

Anak skena yang hadir di masa itu, di awal-awal 2000an, di lantai atas Twice Tape Shop, biasanya ada personel Superman Is Dead, Djihad (sebelum ganti nama menjadi The Dji Hard), Emocore Revolver, Commercial Suicide, dan siapa lagi saya lupa. Nenggak arak, rambut di-mohawk, jumpalitan seru bergerak, senandung Shaden membuat semarak.

...Paling-paling juga kalau kamu mentok, balik padaku (masuk melodi gitar, duh, ngerik, bergidik bulu kudukku).

Selamat Hari Musik Nasional!


Tentu, bukan perkara gampang untuk mampu menulis sedemikian rupa. Mesti rajin berlatih agar terbiasa mengungkap isi pikiran dan dituangkan lewat tulisan. Memang, di era sekarang sudah lebih dimudahkan, bisa berekspresi lewat video. Namun tetap saja dibutuhkan kata pengantar yang atraktif untuk menggamit minat orang menyimak lebih lanjut.

Ada resep trengginas agar terampil menulis? Ada. Sederhana malah, tapi praktiknya susah. Paling vital dan mendasar adalah super hobi, sangat suka, sering dan banyak, membaca. Di sini kita rutin menimba dan menyerap ilmu dari berbagai sumber, lewat beragam penulis hebat dan favorit. Setelahnya barulah kita mulai belajar menulis, rajin bereksperimen, alah bisa karena biasa—kalah kepandaian oleh latihan, sesuatu yang sukar, kalau sudah biasa dikerjakan, tidak terasa sukar lagi. Ayo (tingkatkan kegemaran membaca sebelum) mulai berlatih menulis!

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Supernoize # Rudolf Dethu #imajinasi #literasi #storytelling

0 Comments

Comment
Other Related Article
Rudolf Dethu: BALI VINYL MOVEMENT: Skena Termeriah di 2021

Rudolf Dethu: BALI VINYL MOVEMENT: Skena . . . .

09 January 2022

Noize

Acum Bangkutaman: 2021: Tahun yang Baik untuk Musik

Acum Bangkutaman: 2021: Tahun yang Baik . . . .

08 January 2022

Noize

Buluk Superglad: Ada yang Salah dengan Cara Lo Menangani Band Lo!

Buluk Superglad: Ada yang Salah dengan . . . .

26 December 2021

Noize

Arief Blingsatan: Sensasi Bermusik Sebagai Pemain Bass Sekaligus Vokalis

Arief Blingsatan: Sensasi Bermusik Sebagai Pemain . . . .

25 December 2021

Noize

DEWO ISKANDAR: PENTINGNYA NETWORKING MUSIK

DEWO ISKANDAR: PENTINGNYA NETWORKING MUSIK

22 December 2021

Noize

Yulio Piston: Serunya Warna Musik Lama Yang Dibawakan Para Pemain Baru Kancah Lokal

Yulio Piston: Serunya Warna Musik Lama . . . .

18 December 2021

Noize

Arief Blingsatan: Geliat Musik Pasca Pandemi Mereda

Arief Blingsatan: Geliat Musik Pasca Pandemi . . . .

14 December 2021

Noize

Buluk Superglad: Peraturan Tidak Akan Membungkam Kreativitas

Buluk Superglad: Peraturan Tidak Akan Membungkam . . . .

09 December 2021

Noize

Agung Hellfrog: Aksesoris Gitar yang Diperlukan Agar Cepat Jago Main Gitar

Agung Hellfrog: Aksesoris Gitar yang Diperlukan . . . .

24 November 2021

Noize

Agung Hellfrog: Vox AP2MT amPlug 2 Headphone Guitar Amplifier

Agung Hellfrog: Vox AP2MT amPlug 2 . . . .

18 November 2021

Noize

1 /