Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Stephanus Adjie: Mati Ide Mati Gaya, Terus Gimana Dong?

Author : Admin Music

Article Date : 05/08/2021

Article Category : Noize

Halo.. bertemu dengan saya lagi, lebih tepatnya tulisan saya. Sudah beberapa bulan saya tidak menulis untuk Supermusic. Sebenarnya setiap bulan pihak Supermusic selalu menanyakan apakah saya mau menulis untuk mereka dan apakah artikel sudah siap. Ya tentu saja sangat mau, selain menyenangkan menulis dan dibaca banyak orang, juga ada honor yang lumayan apalagi di masa pandemi yang entah kapan akan berakhir. Jadi masalahnya bukan karena saya tidak mau tapi jujur saya bingung mau menulis apa lagi yang menarik. Saya akan sedih dan sia-sia kalau menulis sesuatu yang tidak menarik.

Setiap hari saya masih menulis artikel berita musik keras untuk Blackandzine, tapi itu lebih bersifat informasi dan berita bukan artikel opini seperti ini. Seru sih berbagi informasi musik keras yang saya sukai ini. Sebenarnya saya pun masih mempunyai PR menyelesaikan lirik untuk album down for life. Syukurlah satu lirik untuk single baru sudah jadi dan baru selesai direkam. Semoga segera dirilis. Doakan lancar ya. Masih ada 8 lagu lagi yang harus diselesaikan.

Kembali tentang menulis, baik artikel maupun lirik, saya benar – benar kehabisan ide dan imajinasi. Beberapa kali saya tetap mencoba menulis tapi tidak pernah selesai. Ada sekitar 4 artikel yang akhirnya saya biarkan untuk menjadi tabungan dan mungkin bisa saya lanjutkan nanti. Saya kemudian mencoba mencari solusi dan menemukan sebuah artikel di www.idntimes.com. Judulnya “5 Hal Yang Bisa Dilakukan Saat Kehabisan Ide Untuk Menulis” yang ditulis oleh Sandi Nugraha. Cukup menarik nih dan saya membacanya semoga menemukan solusi.

Menjadikan pengalaman pribadi sebagai bahan sebuah tulisan.

Hmmm.. sepertinya saya sering melakukan ini. Hampir semua tulisan saya berdasarkan pengalaman pribadi. Dari bercerita tentang perjalanan saya dengan down for life, baik sejarahnya, pengalaman bermain di Wacken Open Air 2018, tentang single Apokaliptika, manggung virtual yang melelahkan sampai kisah – kisah pribadi saya. Tentu tidak semua hal bersifat pribadi bisa saya jadikan tulisan, bukan karena rahasia atau privasi tapi kehidupan saya biasa – biasa saja kok, tidak semenarik itu untuk dijadikan tulisan. Mau menulis kegiatan saya sehari – hari selama pandemi dengan banyak menghabiskan waktu bekerja di rumah termasuk menghabiskan uang tabungan? Sepertinya ini banyak dialami teman – teman yang lain. Jadi saran ini sudah sering saya lakukan.

Memperbanyak bahan referensi dengan cara membaca.

Setiap hari saya selalu membaca Blabbermouth, LambgoatMetal Injection, Metal Sucks dan media musik keras lainnya secara digital sebagai bahan tulisan untuk pekerjaan saya di Blackandzine yang harus selalu aktual dan akurat. Membaca buku? Saya baru sadar ternyata sudah lama tidak membaca buku, karena semenjak pandemi jadi jarang ke toko buku. Saya adalah manusia purba yang gagap untuk belanja buku secara online. Rasanya berbeda dan ada sesuatu yang kurang sreg bagi saya kalau belanja online. Biasanya ketika sebelum pandemi, hampir sebulan sekali menyempatkan mampir ke toko buku saat sedang jalan – jalan ke pusat perbelanjaan atau saat melakukan perjalanan udara melalui bandara selalu mampir ke Periplus untuk membeli majalah Metal Hammer dan melihat buku yang menarik untuk dibaca dalam perjalanan.

 Referensi lainnya melalui musik terutama liriknya. Sekali lagi saya adalah manusia purba yang kurang suka mendengarkan lagu melalui layanan streaming. Saya lebih suka mendengarkan melalui CD atau vinyl. Layanan streaming biasanya hanya untuk ngecek album baru saja, kadang melalui Spotify tapi lebih seringnya lihat videonya di YouTube. Alasan saya lebih suka mendengarkan secara fisik karena bisa membaca lirik lagu – lagu tersebut, melihat ilustrasi atau desain albumnya juga sedikit mengetahui proses produksi seperti siapa produsernya, siapa yang mixing dan mastering, rekaman di studio mana. Bagi saya itu sangat menyenangkan. Itu tidak bisa tergantikan dengan layanan streaming.

Kembali ke lirik lagu, beberapa bulan terakhir ini saya beli beberapa album dari Gojira yang terbaru “Fortitude” juga 4 album lama mereka untuk melengkapi koleksi, album terakhir Lamb of God yang self titled dengan drummer baru, Helloween dengan album self titled juga yang menampilkan 2 personil lawas kembali bergabung, Misery Index album “Rituals of Power”, album terbaru Code Orange “Underneath” yang mengantarkan mereka menjadi nominator Grammy Awards, Hatebreed dengan album “Weight of The False Self” yang untuk pertama kalinya gagal masuk Billboards 200 dan album lama band hip hop favorit saya The Roots “Things Fall Apart”. Saya baca lirik dari album–album tersebut, bukannya mendapatkan ide tapi malah semakin bingung. Memang inspirasi banyak tapi malah makin bingung mana yang saya jadikan ide atau tema dasarnya. Ditambah saya merasa inferior karena merasa, ‘kok mereka bisa bikin lirik keren–keren ya’. Huks sedih.

Saya kemudian juga membuka www.supermusic.id dan menemukan beberapa tulisan teman–teman saya. Yulionta, Arief Blingsatan dan lainnya dengan artikel luar biasanya. Saya senang karena mereka masih produktif menulis sebagus itu tapi juga sedih karena saya belum bisa melakukan hal yang sama. Jangan–jangan saya harus pensiun menulis ya?

Berbicara atau tukar pikiran dengan orang lain.

Untuk tulisan Supermusic, saya selalu bertanya apakah ada tema yang harus saya tulis, tapi dari Supermusic memberikan kebebasan untuk menulis apa saja. Ini menyenangkan sekaligus kadang membingungkan disaat otak buntu seperti saat ini. Saya bertanya ke pacar, yang kebetulan juga seorang jurnalis, dia memberi beberapa ide dan saran tapi semakin banyak saran semakin bingung juga. Tapi dia sangat membantu saya dalam penulisan lirik untuk single baru down for life berjudul “Children of Eden” terutama memperbaiki tata bahasanya, maklum bahasa Inggris saya pas – pasan, saya lebih fasih berbahasa Cina..tapi bohong. Kalau ide lagu itu dari pengalaman sahabat saya, Kukuh Hadi, yang mempunyai anak berkebutuhan khusus sama seperti keponakan saya. Ya, saran untuk berbicara dengan orang lain cukup membantu. Tapi tergantung dan harus berbicara dengan orang yang tepat di saat yang tepat pula. Karena saya mencoba bertukar pikiran dengan teman yang lain malah bikin emosi.

Segarkan pikiran dengan menghirup udara segar.

Wah ini kayaknya ngajak berantem yang bikin artikel. Sekarang sedang PPKM Darurat jadi mobilitas dan aktivitas sedang dibatasi untuk menekan penularan virus corona. Jadi gimana caranya menghirup udara segar untuk saya yang tinggal di apartemen tengah kota. Oh..mungkin artikel ini ditulis sebelum pandemi ya. Ok saya maafkan.. tidak jadi berantem. Karena kondisi begini akhirnya saran ini harus menyesuaikan situasi dan kondisi. Saya tidak bisa pergi jauh, meski beberapa bulan lalu sebelum PPKM sempat liburan seminggu ke Lombok, tapi sekarang ya pergi ke taman apartemen atau naik motor di sore hari tapi tidak bisa jauh juga karena banyak ruas jalan disekat. Setidaknya tidak ngendon di apartemen terus. Bisa jadi lumut.

Jika pikiran terlalu penat, maka istirahatlah.

Wah kalau ini tanpa disuruh bahkan tidak penat pun saya suka sekali istirahat. Kayaknya saya lebih banyak istirahatnya daripada berpikir. Bulan lalu ketika saya sudah mencoba menulis dan selalu gagal untuk menyelesaikannya, saya memutuskan menonton sepakbola dari Euro 2020 saat malam berlanjut Copa America di pagi hari. Hampir nonstop nonton bola, sangat menghibur dan hiburan berkualitas bagi saya. Nonton film biasanya pas mau tidur saja. Saya suka nonton film bukan seorang penggemar berat film. Bahkan sebenarnya saya kurang nyaman nonton film di bioskop. Selain saya mudah kebelet kencing, karena saya harus minum air putih banyak untuk menjaga ginjal, juga karena agak malas nonton harus menyesuaikan jam tayang. Ribet amat ya.

 Eh..tidak terasa saya sudah menulis 4 halaman. Wah ini sudah cukup untuk dikirimkan sebagai artikel ke Supermusic. Horeeeee… saya berhasil menyelesaikan artikel lagi meski menulis tentang kesulitan untuk menulis. Menarik juga. Terima kasih untuk Sandi Nugraha atas artikelnya sehingga saya bisa menyelesaikan artikel. Meski saya sok – sok an menolak sarannya tapi ternyata berhasil. Tapi sebentar saya malah jadi bingung sebenarnya saya kehabisan ide atau hanya malas berpikir lebih keras saja ya?

ARTICLE TERKINI

Tags:

#Stephanus Adjie # menulis lagu #Musik

0 Comments

Comment
Other Related Article
Acum Bangkutaman: Menghargai Lebih Musik Indonesia

Acum Bangkutaman: Menghargai Lebih Musik Indonesia

29 September 2021

Noize

Buluk Superglad: Love Your Idol And Don’t Let It Kill You

Buluk Superglad: Love Your Idol And . . . .

27 September 2021

Noize

Alvin Yunata: Kisah Rilisan Fisik Hari Ini

Alvin Yunata: Kisah Rilisan Fisik Hari Ini

15 September 2021

Noize

Stephanus Adjie: Bursa Transfer Band Metal

Stephanus Adjie: Bursa Transfer Band Metal

11 September 2021

Noize

Hasan Dzikrullah: Ide Kreatif Itu Memilih Inangnya

Dewo Iskandar: Ide Kreatif Itu Memilih Inangnya

31 August 2021

Noize

Evolusi Rockbali: Vegas Dulu, Ubud Kemudian

Evolusi Rockabali: Vegas Dulu, Ubud Kemudian

29 August 2021

Noize

Arief Blingsatan: Mengenang We Are Pop Punk Tour 2014

Arief Blingsatan: Mengenang We Are Pop . . . .

27 August 2021

Noize

Acum Bangkutaman: Membangun Semangat Guyub di Tengah Pandemi

Acum Bangkutaman: Membangun Semangat Guyub di . . . .

26 August 2021

Noize

Arief Blingsatan: Musik sebagai Media "Self Healing"

Arief Blingsatan: Musik sebagai Media "Self . . . .

24 July 2021

Noize

Panggung Internasional Bagi Para Penulis Heavy Metal

Panggung Internasional Bagi Para Penulis Heavy . . . .

18 July 2021

Noize

1 /