Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct First Name
Please Insert the correct Last Name
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Reset Password

Please choose one of our links :

Yellow Magic Orchestra supericon

Author :

Article Date : 28/07/2020

Article Category : Super Icon

“Di-sample oleh J Dilla, di-cover oleh Michael Jackson, dan dikutip oleh Juan Atkins dan Derrick May sebagai influens utama mereka ketika menjadi pelopor musik Detroit techno,” tulis sebuah artikel berjudul “The Guide to Getting Into Yellow Magic Orchestra” dari Vice/Noisey.

Dikenal sebagai sebuah grup yang menjadi pelopor sound tehcno-pop Jepang di era akhir 70-an, Yellow Magic Orchestra (YMO) telah menjadi sebuah nama besar yang sangat berpengaruh dalam perkembangan musik elektronik kontemporer. Sama besarnya di Jepang dan di negara lain, mereka menjadi salah satu grup yang hadir dengan sound segar melalui permainan synthesizers, sequencers, dan drum machine--menempatkannya dalam pedestal tinggi yang hanya bisa ditandingi oleh Kraftwerk.

Singkat kata, karya dan eksperimen mereka masih menjadi pengaruh penting bagi para musisi dan budaya musik populer, bahkan hingga sekarang.

Mengenal YMO lebih dalam, mereka adalah trio yang mulanya dibentuk di Tokyo pada tahun 1978 ketika sang kibordis Ryuichi Sakamoto tengah menggarap album debut solonya. Di antara kolaborator dalam penyusunan album tersebut adalah drummer Yukihiro Takahashi, yang juga seorang personel di grup art rock bernama the Sadistic Mika Band. Terakhir, adalah bassist Haruomi Hosono, yang semasa itu sudah memiliki segudang diskografi di balik namanya, termasuk di antaranya empat album solo dan sejumlah kontribusi produksi.

Ketika ketiga musisi tersebut bergabung menjadi Yellow Magic Orchestra, trio tersebut meluncurkan debutnya, sebuah LP self-titled yang sebagian besar terinspirasi karya pionir musik elektronik asal Jerman, Kraftwerk pada tahun 1978. Setahun setelahnya, YMO melanjutkan diskografi mereka dengan melepas Solid State Survivor. Album tersebut menjadi sebuah batu lompatan besar bagi karakteristik musik mereka. Ia mengemas lagu-lagu yang lebih kuat dan lebih terfokuskan pada penggunaan instrumen elektronik. Adapula lirik berbahasa Inggris yang ditulis oleh Chris Mosdell. Melalui album ini, nama YMO pun mulai terdengar luas di kalangan musik elektronik.

Melanjutkan skema perilisan album di tiap tahunnya, YMO kembali dengan album Xoo Multiplies pada tahun 1980. Album itu merupakan sebuah rilisan penuh ragam, memuat di dalamnya sebuah sketsa komedi dan dua lagu cover dari lagu “Tighten Up” milik Archie Bell & the Drells. Di tahun yang sama, mereka juga meluncurkan album live berjudul Public Pressure. Tiba di 1981, YMO meluncurkan dua keping album, BGM dan Technodelic. Kedua album ini menampilkan eksperimentasi trio tersebut yang menapak lebih dalam ke ranah synth pop--membuka ranah musik baru yang juga mengantar mereka menuju berbagai macam kesibukan solo proyek kala itu.

Album Service hadir di tahun 1983, dan melaluinya YMO kembali memuat sketsa komedi--kali ini bekerja sama dengan grup teater S.E.T., Perilisan mereka dilanjutkan dengan album Naughty Boys dan juga After Service sebagai album live nomor dua mereka. Setelahnya, Yellow Magic Orchestra memutuskan untuk bubar--tepat di tengah puncak ketenaran dan popularitas mereka. Dikatakan bahwa masing-masing personel ingin kembali menghidupkan karier solo mereka.

Sakamoto menjadi personil yang paling terdengar di era pasca-YMO. Ia dikenal sebagai komposer film, bahkan terlibat sebagai co-writer dalam film The Last Emperor (1987) yang memenangkan Academy Award. Hosono tidak jauh berbeda. Ia juga turun ke dalam ranah musik untuk film, namun menyempatkan waktu untuk merilis sejumlah proyek musik ambient secara solo. Sementara itu, Takahashi kembali mendalami akar rock eksperimentalnya di dalam musik.

Di tahun 1990-an, nama YMO kerap dikutip sebagai salah satu pelopor musik ambient house, hingga bermuara menjadi sebuah remix album berjudul Hi-Tech/No Crime. Trio tersebut akhirnya bergabung kembali dan melakukan reuni di tahun 1993. Darinya, sebuah album bertajuk Technodon pun berhasil dirilis sebelum akhirnya YMO kembali berpisah.

Apa album dan lagu Yellow Magic Orchestra favorit kalian? Coba tulis di kolom komentar, di bawah ini!

ARTICLE TERKINI

Tags:

#yellow magic orchestra #musik elektronik #Jepang #synth pop #ambient house #ryuichi sakamoto #yukihiro takahashi #haruomi hosono #ymo #SuperIcon

0 Comments

Comment
Other Related Article
Childish Gambino: Ikon Multitalenta Generasi Milenial

Childish Gambino: Ikon Multitalenta Generasi Milenial . . . .

13 April 2021

Super Icon

greg graffin

Greg Graffin: The Punk Professor

29 September 2020

Super Icon

childish gambino

Childish Gambino: Ikon Multitalenta Generasi Milenial . . . .

14 September 2020

Super Icon

kendrick lamar

Kendrick Lamar sebagai King of Today Hip-Hop

26 August 2020

Super Icon

The Upstairs

The Upstairs Membawa Gelombang Musik Baru . . . .

22 July 2020

Super Icon

tyler the creator

Tyler, The Creator: Ikon Rapper Nyentrik Masa Kini

27 May 2020

Super Icon

mitch lucker

Mitch Lucker: The Fallen Prince of Deathcore

28 April 2020

Super Icon

gerard way

Gerard Way si Frontman Emo Mulitalenta

22 April 2020

Super Icon

the weeknd

The Weeknd: Starboy yang Terus Meroket

23 March 2020

Super Icon

Champion Sound: J Dilla dan Kehidupan Beat Hip-Hop

Mengenal J Dilla: Salah Satu Beatmaker . . . .

28 February 2020

Super Icon

1 /