Sosok Bobby Gillespie dalam skena musik Inggris jadi salah satu nama yang cukup memiliki pengaruh. Pengalamannya di skena musik Inggris yang terus bertransformasi seiring zaman jadi salah satu penentu yang membuat reputasinya hingga saat ini masih diperhitungkan. Bobby Gillespie juga cukup sering menjadi suara dari banyaknya musisi muda yang kurang mendapatkan eksposur maupun kesempatan dalam mempromosikan talentanya.
Kali ini, Bobby Gillespie kembali bersuara untuk menjadi wakil dari musisi dan seniman muda di Inggris. Bobby Gillespie baru saja mengomentari bagaimana dampak negatif Brexit bisa menimpa para musisi dan seniman muda saat ini dan juga di masa depan. Bobby Gillespie beranggapan bahwa dengan resminya keputusan Brexit, hal tersebut dapat memupus harapan mimpi bagi musisi dan seniman muda untuk berkarya.
Menurut Bobby Gillespie, masa kini para musisi muda yang datang dari kelas pekerja tidak memiliki keleluasaan dan kesempatan yang sama jika dibandingkan dengan masa mudanya. Keberuntungan juga dianggap sebagai sebuah faktor mengenai hal tersebut bagi Bobby Gillespie. Menurutnya kebijakan pemerintah Inggris saat ini yang akan memotong 50 persen pendanaan pendidikan kreatif akan membuat para insan kreatif muda kesulitan mengembangkan talentanya.
Meskipun begitu, Bobby Gillespie masih menaruh banyak harapan pada generasi muda. Menurut pentolan dari Primal Scream tersebut, setiap orang akan menemukan cara menuangkan kreativitasnya masing-masing. Mereka akan bisa menumpahkan rasa ketakutan, amarah, hingga harapan dalam medium yang lebih luas di masa depan. Namun, peraturan yang ada tentu akan membuat hal tersebut jadi lebih sulit untuk dicapai.
Ungkapan tentang harapan musisi muda yang semakin terkikis tersebut diutarakan oleh Bobby Gillespie saat dirinya melakukan wawancara bersama BBC. Dalam kesempatan yang sama, Bobby Gillespie juga mengabarkan kepada para penggemarnya bahwa proyek kolaborasi yang dirinya lakukan bersama Jehnny Beth dan Savages sudah rampung dan siap untuk diedarkan. Kolaborasi musikal baru inisiasi Bobby Gillespie tersebut hadir dalam album berjudul Utopian Ashes.
Di luar proyek kolaborasinya tersebut, Bobby Gillespie juga tengah mempersiapkan buku biografi miliknya. Bobby Gillespie selaku pentolan di dalam tubuh Primal Scream dan sempat jadi bagian dari The Jesus and Mary Chain mengumumkan bahwa dirinya akan segera merilis sebuah buku memoar berjudul Tenement Kid. Buku memoar yang ditulis oleh Bobby Gillespie ini akan menceritakan masa kecil hingga remaja dari pendiri Primal Scream tersebut, sekaligus juga menceritakan tentang perubahan pandangan yang dialaminya sejak meninggalkan ideologi Thatcherism. Dalam buku yang ditulis oleh pendiri Primal Scream ini, Bobby Gillespie juga akan mengungkapkan perkenalan pertama yang dialaminya dengan genre musik acid house.
Dalam pengumuman resmi terkait buku memoarnya, Bobby Gillespie menyatakan bahwa buku Tenement Kid ini ditulis dalam 4 bagian. Empat bagian tersebut akan membahas tentang masa kecil dan remajanya, lalu perjalanan kariernya sebagai seorang penikmat musik dan penggiat skena, serta menjelaskan tentang hubungan Primal Scream sebagai salah satu band inovatif di dekade 1990-an dan hubungan dengan bandnya bersama Creation Records.
Bobby Gillespie mengakui bahwa di awal tahun 2020 lalu, dirinya sudah memiliki rencana kreatif dalam perjalanan kariernya. Namun, saat itu vokalis di dalam tubuh Primal Scream tersebut enggan dan sudah merasa lelah merilis album. Bobby Gillespie menginginkan hal lain yang diproyeksikan sebagai warisan kreatifnya di masa depan nanti. Akhirnya mulai di musim panas 2020, vokalis Primal Scream tersebut memutuskan untuk menulis buku memoarnya. Sejak musim panas hingga musim dingin 2020, secara konsisten Bobby Gillespie menulis buku tentang dirinya sendiri. Saat ini, buku yang ditulis oleh pencetus Primal Scream tersebut sedang masuk di tahap akhir produksi dan akan segera dirilis pada bulan Oktober mendatang.
Tentu saja, buku yang ditulis oleh Bobby Gillespie ini akan lebih membuat para penggemar dirinya secara pribadi maupun penggemar Primal Scream mengenal sang musisi lebih dalam. Sedikit sejarah, Primal Scream dibentuk oleh Bobby Gillespie di tahun 1982, satu tahun sebelum The Jesus and Mary Chain terbentuk. Bobby Gillespie mendirikan Primal Scream bersama teman sekolahnya yaitu Jim Beattie.
Awalnya, kedua musisi yang membentuk Primal Scream tersebut mencoba untuk membuat band experimental. Namun, lambat laun Primal Scream pun mulai terinspirasi oleh musik dari The Velvet Underground serta The Byrds. Di tahun 1984, Primal Scream mulai merekam materi-materi yang mereka buat di masa-masa awal pembentukan band tersebut. Kala itu, Bobby Gillespie harus berbagi peran untuk menjadi pemain drum di dalam The Jesus and Mary Chain serta jadi otak bagi Primal Scream.
Di awal perjalanan kariernya, Primal Scream terbilang cukup sulit untuk beroperasi secara maksimal. Oleh karena itu, di tahun 1986, Bobby Gillespie memilih untuk keluar dari The Jesus and Mary Chain untuk fokus membangun Primal Scream sesuai konsep dan keinginannya bersama Jim Beattie. Kembali fokus dalam mengelola Primal Scream, Bobby Gillespie mengundang Andrew Innes untuk mengisi posisi pemain gitar.
Kerja sama tersebut terbukti menghadirkan harmoni yang dibutuhkan di dalam tubuh Primal Scream. Selanjutnya, di tahun 1987. Primal Scream pun resmi merilis album perdana mereka berjudul Sonic Flower Groove. Namun sayang, percobaan perdana yang dilakukan oleh Primal Scream melalui albumnya dianggap masih belum berhasil. Akhirnya, Jim Beattie pun memutuskan hengkang dari Primal Scream. Bobby Gillespie bersama Andrew Innes melanjutkan Primal Scream dengan dukungan dari Phillip "Toby" Tomanov dan Robert "Throb" Young sekaligus juga memindahkan pusat domisili mereka dari Skotlandia menuju Inggris.
Dua tahun setelah album perdananya, Primal Scream pun kembali mencoba menghentakkan langkah mereka di skena musik rock Inggris dengan merilis album kedua dengan nuansa rock yang lebih gahar. Sayangnya album kedua tersebut malah mendapatkan atensi yang kurang baik, bahkan dibandingkan dengan album pertamanya. Beberapa media musik mengatakan bahwa lagu-lagu yang tersaji dalam album kedua tersebut terdengar membingungkan tanpa ada dasar konsep musik yang jelas.
Image courtesy of Bahadir Aydin / Shutterstock
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 25/07/2021
8 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
Riani El
24/11/2024 at 21:35 PM
pujanadi
10/04/2025 at 10:05 AM
MArsin
12/06/2025 at 09:21 AM
Fais Arifin
12/06/2025 at 09:32 AM
AyuRL Ningtyas
08/10/2025 at 14:16 PM
Vivi
28/10/2025 at 23:04 PM
Brawijaya Hutabarat
08/12/2025 at 09:34 AM
Andyyy y
30/01/2026 at 01:48 AM