Penyanyi dan multi-instrumentalis Fazerdaze akhirnya kembali lagi setelah absen selama lima tahun terakhir. Fazerdaze, moniker untuk Amelia Murray ini menandai comeback-nya dengan sebuah single berjudul Come Apart. Single ini dilepas lewat label rekaman Section1.
Fazerdaze menyatakan bahwa single baru berjudul Come Apart ini merupakan sebuah respons terhadap perpisahan dengan orang-orang dalam hidupnya. Selain berperan sebagai bentuk self-defense, lagu ini juga menjadi medium baginya untuk menjadi “teriakan” kepada diri sendiri untuk menyerah dan mengakui sebuah hubungan yang sudah kandas.
Musisi berdarah campuran Indonesia-Selandia Baru tersebut mengatakan dalam rilisan pers, “Saya menulis lagu ini ketika saya belum bisa sepenuhnya menerima bahwa hubungan dengan orang-orang terdekat saya sudah kandas. Saya merubah diri saya sendiri untuk beradaptasi dengan orang lain, melakukan apa pun yang saya bisa untuk tetap melanjutkan hubungan daripada mengakui bahwa hubungan tersebut sudah berakhir.”
“Saya rasa lagu ini cara bagi alam bawah sadar saya untuk berteriak kepada diri saya sendiri, agar bisa menyerah dan mengakui bahwa hal-hal dalam hidup saya memang sudah berakhir,” ungkapnya melanjutkan.
Dengan lantunan fuzz gitar era 1990-an, single ini lahir sebagai bukti kembalinya Fazerdaze dari fase penting perjalanan hidupnya. Bersama gitarnya, ia kembali jatuh cinta dengan musisi seperti Blur dan Nirvana sebagai bentuk sambutan katarsis dalam hidupnya. Come Apart adalah pertanda awal baru atas kembalinya musisi penting dalam generasi kita. Single Come Apart kini sudah bisa dinikmati di berbagai platform streaming musik kesayangan kalian.
Fazerdaze telah memulai determinasi baru utnuk bekerja keras setelah rilisan album debutnya di tahun 2017 lalu, Morningside. Ia pun telah menempatkan dirinya pada momen dan tempat yang tepat sehingga membawa moniker Fazerdaze ini ke dalam kontrak dengan label Flying Nun.
Album Morningside sendiri mendapatkan ulasan yang positif dari media-media kenamaan internasional. Pitchfork mengulas album ini sebagai “effortless pop that are far less effortless than people think.” Sementara Mojo mengulas album ini dengan menyatakan “a fuzzed-up, Pixies-worthy melodic high.”
Selepas itu, Fazerdaze hampir sepenuhnya absen dalam menciptakan karya. Keputusan tersebut merupakan akumulasi dari berbagai hal yang terjadi setelah selesainya tur pada tahun 2018 silam.
Amelia Murray, dalam lingkup personal maupun Fazerdaze, sempat merasakan kelelahan emosional yang luar biasa hebat. Situasi itu adalah buah dari problematika hubungan personal, serta perasaan tidak layak dan tidak percaya diri akan ketenaran dan keberhasilan Fazerdaze.
Beratnya rintangan yang dialami oleh Amelia Murray membuatnya tidak bisa melanjutkan dan menyelesaikan proyek Fazerdaze yang sedang berjalan untuk sementara waktu.
“Saya kehilangan banyak kepercayaan diri, dan kewarasan saya benar-benar terkikis. Seiring berjalannya waktu, saya merasa saya harus menyerah pada keadaan yang sangat tidak mendukung tersebut; baik secara profesional maupun secara personal,” ujar musisi berdarah Indonesia-Selandia Baru ini.
Amelia Murray menambahkan, “Menerima dan menyerah pada keadaan tersebut merupakan keputusan terbaik dalam hidup saya. Melepaskan berbagai hal dan hubungan yang sudah tidak berjalan dengan baik menjadi sebuah kelegaan tersendiri bagi kondisi emosional saya. Saya akhirnya bisa melepaskan beban yang saya pikul selama ini; bisa mendengarkan intuisi saya, mulai menulis lagu kembali, dan kembali menjadi kreatif. Saya bergabung dengan label terbaru, dan pindah ke tempat tinggal yang baru. Semua hal baik seperti menemukan caranya sendiri ke dalam hidup saya.”
Pada Mei 2017 lalu, Fazerdaze telah merilis album debut betitel Morningside. Dalam review album ini, Pitchfork mencatat bahwa Fazerdaze menggambarkan dari palet yang relatif terbatas—gitar, drum, sesekali garis keyboard. Tetapi Morningside lebih percaya diri daripada apa pun di EP debutnya tiga tahun lalu. Dia bergerak melalui gaya dengan anggun, dari riff gitar fuzz lurus ke depan hingga kolase suara yang lebih lembut.
Fazerdaze juga dicatat menampilkan sejumlah trek dengan suara vokal yang manis dan mengalir. Lagu-lagunya seolah-olah dibuat untuk menikmati senja.
Di balik semua melodi dan earworm yang cerah, Amelia Murray sering menulis tentang kekhawatiran. Kecemasan hubungan tingkat rendah tertanam dalam komposisi hampir setiap lagu. Morningside adalah apa yang terjadi ketika rekaman bedroom pop menjadi terlalu besar untuk hanya satu kamar yang tidak pernah kehilangan keintimannya.
Apa pun tujuannya, sepertinya Murray tidak peduli. Dia terdengar terkonsentrasi pada satu hal yang diinginkan oleh setiap band Flying Nun yang hebat: membuat lagu-lagu pop yang mudah yang jauh lebih mudah daripada yang dipikirkan orang.
Fazerdaze adalah moniker untuk Amelia Murray yang lahir pada 18 Januari 1993. Ia adalah penyanyi, penulis lagu, dan multi-instrumentalis Selandia Baru, yang juga berdarah Indonesia.
Dia merilis EP self-titled debutnya pada Oktober 2014, merekamnya sepenuhnya di studio kamar tidurnya di Auckland. Dengan bantuan multi-instrumentalis Jonathan Pearce, yang menguasai rilis, ia menciptakan suara dream-pop, menggunakan gitar listrik dan pedal efek.
Image source: https://www.instagram.com/fazerdaze/
ARTICLE TERKINI
Article Category : Super Buzz
Article Date : 30/08/2022
2 Comments
Daftar dan Dapatkan Point Reward dari Superlive
SRI YAYA ASTUTI
24/04/2025 at 12:44 PM
Muhamad Saifudin
28/06/2025 at 23:15 PM