Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Acum Bangkutaman: Pusparagam Lirik Lagu Indonesia

Author : Admin Music

Article Date : 01/09/2022

Article Category : NOIZE

Dalam sejarah musik, Indonesia banyak menyimpan keanekaragaman lagu. Kita mengenal banyak lagu daerah yang dibangun dari kearifan lokal, mulai dari bahasa hingga pemakaian unsur instrumen khas sehingga menjadi gagasan musik yang tercipta dari pengalaman sektoral daerah masing-masing.

Dalam musik populer, masuknya budaya luar—termasuk musik dari keroncong, jazz, pop, rock dan turunan-turunannya—saat itu secara langsung membentuk identitas Indonesia sebagai negara dengan pusparagam lagu dan musik populer yang besar dari zaman ke zaman. Salah satu yang membentuk identitas Indonesia dalam musik populer, selain dari bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh instrumen dan aransemen, lirik adalah elemen yang terpenting.

Dari zaman ke zaman, dalam garis sejarah lagu dan musik populer Indonesia, lirik Indonesia selalu berkembang. Di tiap era, selalu ada kegelisahan yang menarik, berangkat dari budaya dan tren yang berkembang di masyarakat.

Di tahun 1950-an misalnya, kita melihat unsur puitis yang dalam di lagu-lagu populer tahun 1950-an meski di era itu juga ada lirik lagu mars dengan lirik tegas dan lugas. Di luar itu, lagu-lagu populer, khususnya lagu cinta yang tertulis saat itu, punya kadar puitis yang luar biasa.

Mari simak lagu Sabda Alam, contoh lagu paling umum yang hari ini kita bisa dengarkan lewat aransemen apik grup band White Shoes and The Couples Company. 

Sabda Alam ditulis musisi/komponis Ismail Marzuki di tahun 1956. Dinyanyikan di era 1950-an oleh Theresa Zen dengan iringan orkes Lima Serama pimpinan Amin Usman. Lagu yang masuk dalam kompilasi Kisah Pasar Baru dan masuk dalam daftar 150 lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia ini punya lirik puitis.

 

Diciptakan alam pria dan wanita
Dua mahluk dalam asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah lembut manja

Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut di sudut kerling wanita

 

Menurut saya, lagu ini adalah kritikan terhadap stigma bahwa laki-laki lebih berkuasa terhadap lawan jenisnya. Penulis membaca tren sosial pada saat itu bahwa perempuan hanya sekadar dijadikan perhiasan bagi pria. Dalam hal ini, saya ingin mengangkat harkat perempuan yang adalah ciptaan Tuhan menjadi sederajat dengan laki-laki.

Beda Ismail Marzuki, beda juga dengan Oey Yok Siang. Di tahun 1950-an, ia menulis lagu Aksi Kucing yang juga populer dalam beberapa dekade berikutnya oleh White Shoes and The Couples Company. Lagu ini juga bernuansa kritik sosial, yang menurut pengamat Denny Sakrie, menyentil budaya adu domba yang kerap terjadi dan dilakukan oleh oknum tertentu untuk memecah belah persatuan di masyarakat.

 

Apa guna bung malu malu kucing
Meong meong di belakang suaranya nyaring
Jangan suka bung diam diam kucing
Sudah menerkam sebelumnya berunding

Aksi kucing membikin perselisihan
Salah salah dari kawan jadi lawan
Salah faham bung karena aksi kucing
Urusan kecil bisa jadi meruncing

 

Kita bisa melihat pemakaian metafora saat itu yang mengandaikan manusia dengan kucing sehingga timbul peribahasa malu-malu kucing. Bagaimana tingkah laku kucing yang kerap berselisih ketika bertemu kucing lainnya, mengeong, dan menerkam tanpa kompromi. 

Pemakain puisi metafora dan rima yang baik berkembang sampai ke tahun 1960 dan 1970-an. Di tahun 1970-an, Yok Koeswoyo menulis lagu Kolam Susu yang ditulisnya di tahun 1973. Lagu yang masuk dalam album Koes Plus volume 8 di perusahaan Remaco ini ditulis Yok untuk menggambarkan kebanggaan dirinya terhadap negara Indonesia yang kaya raya lewat metafora kolam susu.

 

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

 

Banyak majas yang digunakan untuk menggambarkan betapa kaya Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan. Sampai-sampai kail dan jala saja cukup untuk hidup. Bagaimana lahan indonesia yang subur diibaratkan dengan (menancapkan) tongkat kayu dalam (tanah) berbatu jadi tanaman. Di lagu ini secara tak langsung Yok menggambarkan bahwa dalam kondisi yang sulit sekalipun, masyarakat Indonesia tetap bisa hidup dengan tidak kekurangan satu apa pun.

Kemudian tahun 1980-an adalah masa ketika muncul tren yang disebut sebagai lagu cengeng. Maraknya lagu dengan tema patah hati ini membuat pemerintah resah. Akhirnya pemerintah melalui Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, membuat larangan agar lagu-lagu patah hati tersebut tidak ditayangkan di televisi hingga radio.

Ditengarai, lagu-lagu yang dicap cengeng tersebut hadir dengan aransemen lagu yang lambat dibawakan oleh biduan dengan ekspresi vokal yang sedih. Coba kita tengok lagu Gelas Gelas Kaca karya Rinto Harahap di tahun 1985 yang dinyanyikan biduan Nia Daniaty yang populer di era tersebut. 

 

Gelas gelas kaca
Tunjukkan padaku
Siapa diriku ini
Ayah aku tak punya
Ibu pun aku tiada
Siapapun aku tak punya
Hanya air mata
Yang selalu bercerita kepadaku

 

Jika disimak, jelas gaya penulisan lirik lagu 1950-1970-an sudah memudar. Digantikan oleh penulisan yang gamblang soal seseorang dengan rasa sedih yang berlebih akibat tak punya siapa-siapa selain dirinya. 

Meski demikian, era 1980-an bukannya tanpa perlawanan. Beberapa anak muda perkotaan muncul dengan semangat modernisme membuat gagasan lirik yang lahir dari budaya urban yang terjadi seiring dengan tren yang berkembang. Tengok saja lagu Jalan Jalan Sore yang ditulis Denny Malik di tahun 1989.

 

Jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore
Mencuci mata sambil berngeceng ria
Biarkan, biarlah
Mumpung kita-kita masih muda

Sekarang lagi zaman anak muda suka ngeceng (jalan sore, oh-oh)
Anak-anak pada ngeceng (jalan sore)
Di tempat-tempat perngecengan
Kalau mau ngeceng ikut sama kita (jalan sore)
Ke tempat perngecengan (oh-oh)
Kalau nggak mau ngeceng, oh (jalan sore)
Ngeliat aja orang ngeceng

 

Kata “ngeceng” yang artinya kurang lebih “nongkrong kumpul-kumpul” menjadi populer secara tidak langsung sebagai reaksi lagu menye-menye yang populer. Kata atau istilah yang tumbuh dari tren pergaulan disematkan ke lagu sebagai simbol kebebasan anak muda gaul ibu kota saat itu,

Menginjak era 1990-an, seperti ada upaya untuk mengembalikan jejak lagu-lagu dengan unsur puitis khas era 50-70an. Upaya ini dieksekusi baik oleh grup seperti Kla Project. Lewat album-album yang dirilis pada masa itu, Kla berhasil membangkitkan lirik-lirik puitis yang menarik meskipun tema dan gagasan yang disampaikan bukan sesuatu yang berat, seperti misalnya tentang tak bisa melupakan seseorang di lagu Tak Bisa ke Lain Hati.

 

Bulan merah jambu luruh di kotamu
Kayu sendiri, langkah langkah sepi
Menikmati angin, menabur daun-daun
Mencari gambaranmu di waktu lalu

Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi,
Tercipta nelangsa, merenggut sukma

 

Kita melihat bagaimana penulis Katon Bagaskara secara deskriptif membangun suasana seseorang berada dalam kesendirian akibat ditinggal sang kekasih dengan majas-majas personifikasi yang ia bangun. Misalnya, “bulan merah jambu yang luruh” dan seterusnya. Kenangan-kenangan lalu bersama mantan dipersonifikasikan dengan “daun-daun yang bergoyang ditiup angin.” Betapa indahnya.

Meski demikian, di era 1990-an juga kita mengenal sebuah anomali penulisan lirik lagu yang memakai bahasa-bahasa di luar kaidah bahasa Indonesia. Gagasan ini dibawa oleh grup Slank lewat lirik-lirik yang memakai bahasa gaul alias ‘prokem’. Mungkin saya salah, namun seingat saya, mungkin ini adalah pertama kalinya kata ‘gue’ hadir sebagai subyek menggantikan ‘aku’ dalam lirik lagu. Tengok lagu Kampungan di album Kampungan rilisan tahun 1991.

 

Isi mimpi dan kata hati
Terdengar cuma basa basi
Jujur dibilang terlalu berani 
Akhirnya gue frustasi

 

Kata ‘gue’ muncul kembali di lagu Begitu Saja dalam album Piss. Kata ‘gue’ bersanding dengan kata ‘lo’ sebagai kata ganti ‘kamu’.

 

Lo jangan tinggalin gue
Dan lo jangan maki maki gue deh
Lo kan gak mau gue bilang bangsat
Dan lo juga bukan bangsat kan kan? 
Jangan gitu lagi ya, awas lo? 

 

Penggunaan kata ‘bangsat’ pun secara gamblang digunakan di lirik lagu ini, Secara satire, Slank membawa kata ‘bangsat’, baik sebagai bentuk konotatif maupun dalam arti sebenarnya, yaitu serangga kecil penghisap darah seperti halnya nyamuk. Secara tak langsung, kata ‘gue’ dan ‘lo’ adalah keterwakilan semangat memberontak anak muda era 1990-an sama seperti penggunaan ngeceng di era 1980-an.

Menginjak 2000-an, lirik lagu Indonesia menemukan gaya yang menarik. Band seperti The Upstairs misalnya, mereka menggunakan bait-bait puitis khas 1990-an dipadukan dengan potret zaman ketika lirik lagu tersebut dibuat. Coba tengok lagu Matraman yang ditulis sang vokalis Jimi Multhazam.

 

Demi trotoar dan debu yang berterbangan
Ku bersumpah
Demi celurit, mistar dan batu terbang pelajar
Ku ungkapkan
Atas nama orang-orang
Berdatangan ke utara
Kau kan ku jelang
Kan ku persembahkan
Sekuntum mawar
Aku di Matraman
Kau di Kota Kembang  

 

Di lirik lagu ini kita melihat kata-kata yang tidak biasa dipakai di lirik seperti ‘celurit’, ‘mistar’, dan ‘batu terbang’ bersanding dengan ‘sekuntum mawar’ yang manis. Butuh waktu untuk memahami kata-kata yang berlawanan ini, namun ketika menyelaminya, sang penulis tengah menjelaskan sebuah kawasan di Jakarta yang memang terkenal dengan aksi tawuran yang sudah membudaya selama bertahun-tahun. Kita melihat bagaimana pertemuan celurit, mistar dan batu terbang bisa terjalin secara harmonis menjadi sebuah lagu cinta kasual yang indah.

Di lagu Bangkutaman, Ode Buat Kota, pendekatan yang Jimi lakukan di lagu Matraman pun kurang lebih saya lakukan di lagu ini. 

 

'Tuk suara bising di tiap jalan
'Tuk suara kaki yang berlalu-lalang
'Tuk suara sirine raja jalanan
'Tuk suara sumbang yang terus berdentang
Na na na na na …

 

Bagaimana saya memotret Jakarta dengan menggunakan kata-kata umum yang ada di perkotaan, seperti ‘bising’ dan ‘sirine’ dengan menyematkan metafora ‘raja jalanan’ untuk menggambarkan iring-iringan mobil pejabat yang bisa berjalan seenaknya di jalan raya.

Hari ini, lirik lagu Indonesia bisa dibawa sedemikian rupa menangkap fenomena dan tren teknologi informasi yang berkembang menjadi budaya yang terjadi di masyarakat. Coba tengok lagu My Facebook dari Gigi yang dirilis tahun 2009. Ini adalah pertama kalinya orang mendengar kata ‘Facebook’ yang disematkan baik dalam judul dan lirik lagu Indonesia

Berawal dari Facebook baruku
Kau datang dengan cara tiba-tiba
Bekas kekasih lama yang hilang
Satu dari kekasih yang terbaik 

Armand Maulana dan Gusti Hendy secara jeli menangkap fenomena yang lahir dari maraknya teknologi jejaring sosial yang satu ini yang bisa menghubungkan siapa saja termasuk kekasih lama sekalipun dengan cara yang instan. Di sini, ia menggunakan majas metonimia untuk mendeskripsikan kata hubungan pertemanan dengan sebuah merek.

Pendekatan metonimia Armand kembali diulang oleh musisi Baskara Putra di hari ini. Baskara menjadi contoh dari musisi yang pertama menggunakan kata-kata baru seperti ‘Whatsapp’ untuk menggambarkan istilah pesan serta ‘m-BCA’ untuk menggambarkan pemasukan atau honor. Kedua kata ini terangkai secara baik dalam sebuah gagasan lagu yang ia beri tajuk Fenomena yang dirilis tahun 2019.

 

Lihat kebunku
Penuh dengan ratusan pesan
Whatsapp menggebu
Selalu pura-pura lupa
Membalas yang meminta
Berkarya cuma-cuma, nihil m-BCA

 

Di lagu ini, Baskara menggunakan kata ‘kebun’ untuk menggambarkan smartphone miliknya yang dihiasi dengan ratusan pesan. Bagaimana ia mengeluhkan membuat atau menampilkan karya miliknya secara cuma-cuma alias ‘gratisan’ yang diwakili dengan istilah ‘nihil m-BCA’. Keunikan ini pun bisa ditemui dalam karya-karya lain yang ditulisnya. 

Hari ini, kita bisa menemukan lirik lagu Indonesia dengan berbagai gaya. Musisi-musisi hari ini menggali gagasan tentang lagu dengan dalam namun bisa dalam pendekatan-ringan yang ringan dengan idiom dan permainan kosa kata yang dekat dengan perkembangan zaman. Pada akhirnya, lirik lagu bukanlah sebuah cara yang sulit dalam menyampaikan sebuah gagasan dalam musik. 

Dari banyaknya contoh lagu-lagu yang tertera di atas, sebagai musisi kita bisa memilih pola-pola mana yang ingin diambil, digali untuk kemudian disajikan dalam bentuk lirik lagu yang baik dan bisa dipahami dengan perasaan dan pikiran orang yang mendengarkannya. 

PERSONAL ARTICLE

ARTICLE TERKINI

Tags:

#lirik lagu #lagu indonesia #penulisan lirik #baskara putra #Koes Plus #acum bangkutaman

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
NOIZE

Praktik Musik Indonesia 7 Tahun Terakhir (Sebuah Wacana)

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Yulio Piston: Rilisan Album Lokal Terfavorit 2022

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Dewo Iskandar: Ciptakan Orbit Musik Lo Sendiri!

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Rudolf Dethu: Mana Tembang Mencelakai, Mana Membawa Damai

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Pergerakan Musik Keras Dorong Industri Musik Bangkit Kembali

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Apa yang Harus Dilakukan Saat Mendapat Undangan Tur ke Luar Negeri?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Dewo Iskandar: Jaga Konsistensi Lo Dalam Bermusik!

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Acum Bangkutaman: Budaya Apresiasi Musisi Baru Tanah Air

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Rudolf Dethu: Bali, Destinasi Wisata Konser

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Arief Blingsatan: Semangat Lokalitas yang Menghidupkan Kota

Read to Get 5 Point
image arrow
1 /