Close burger icon

HELLO THERE, SUPER USER !

Please Insert the correct Name
Please Select the gender
Please Insert the correct Phone Number
Please Insert the correct User ID
  • Contain at least one Uppercase
  • Contain at least two Numbers
  • Contain 8 Alphanumeric
Please Insert the correct Email Address
Please Insert the correct Email Address

By pressing Register you accept our privacy policy and confirm that you are over 18 years old.

WELCOME SUPER USER

We Have send you an Email to activate your account Please Check your email inbox and spam folder, copy the activation code, then Insert the code here:

Your account has been successfully activated. Please check your profile or go back home

Reset Password

Please choose one of our links :

Pergerakan Musik Keras Dorong Industri Musik Bangkit Kembali

Author : Admin Music

Article Date : 02/10/2022

Article Category : NOIZE

Paska pandemi mulai mereda, perlahan-lahan industri musik mulai hidup kembali. Hal ini dapat dilihat dari perspektif pergerakan genre musik, salah satunya adalah genre musik keras. Genre musik keras merupakan genre yang mempunyai dinamika yang cukup agresif untuk mendorong industri musik kita cepat bangkit.

Di dalam genre musik keras ini di dalamnya ada berbagai genre, di antaranya seperti rock dan metal beserta variannya. Musik-musik ini pun erat dengan dunia pertunjukan yang penuh energi, Superfriends.

Dari berbagai kota yang terpantau tidak hanya kota besar saja kota kecil setingkat kabupaten pun sudah disibukkan dengan berbagai gerakan-gerakan yang sporadis tapi tidak mencolok. Rilisan single bahkan album yang dirilis, bersama dengan beragam marchandise bahkan beberapa tahun silam saat pandemi mereka terlihat aktif membuat gigs-gigs rahasia, seakan-akan mereka tidak mempedulikan sisi bahaya dan bisnisnya yang mereka pikirkan bahwa eksistensi musiknya harus tetap ada walau dengan kondisi apa pun.

Terbangunnya kembali mental "berjalan di bawah tatanan mainstream" tumbuh ketika antusiasme mereka sudah tak terbendung untuk segera menggelar sebuah acara musik dengan spirit perlawanan. Hal ini didorong oleh keinginan mereka untuk mempertahankan eksistensi musik kegemaran mereka, meskipun ada unsur pembangkangan dalam hal ini lantaran mereka harus melawan peraturan pembatasan di era pandemi waktu lalu, mungkin itu hanyalah sisi fanatisme dan kepedulian terhadap musik yang dicintainya.

Musik keras dan variannya erat sekali dengan pergerakan yang bisa membuat perubahan secara signifikan di bidang sosial kemasyarakatan—seperti yang populer di era 1990-an ketika zaman "indie label" menumbangkan "major label”, dan era sebelumnya ada kaum "hippies" di era 1960-1970-an yang menyuarakan perdamaian di era perang dunia—bagaian ini yang nanti kita bahas di akhir bab.

Berkembangnya media musik rock yang berevolusi menjadi varian genre yang beragam membuat anak-anak muda mudah menumpahkan aspirasinya ke dalam musik yang secara tidak langsung mempunyai nilai provokatif yang efektif, musik keraslah yang slalu kembali menjadi pelopor kebangkitan dari keterpurukan sosial.

Generasi penerus penggerak skena bermunculan menggeliat di ranah gigs dan tur-tur kecil, kemudian senior-seniornya pun merencanakan hal-hal besar dan meluncurkan pertunjukan dengan skala besar, bahkan tak jarang mereka bertahan berkompromi dengan event-event virtual untuk sekedar menyesuaikan diri.

Paska pandemi mereda merupakan pertanda bagi mereka untuk kembali bergerak dengan sebuah perencanaan yang cukup brani di situasi yang tidak pasti seperti ini. Hingga pada waktunya bertemu titik terang kembalinya kehidupan disituasi normal, yang merupakan harapan kita bersama, momen ini dengan cepat diambil sebagai sebuah kesempatan yang lama ditunggu-tunggu. 

Beberapa gelaran yang akan digelar seperti Brotherground, Hellprint, Hingarbingar Fest, Rockinsolo, dan lain-lain yang notebene berani melakukan dengan keterbatasan. Tidak seperti penyelenggaraan event seperti di kondisi sebelum pandemi beberapa tahun silam. Tidak hanya di ranah industri pagelaran saja, musisi-musisi pun bergerak secara nasional bahkan internasional seperti sejumlah band yang telah melakukan beberapa tur internasional di antaranya VOB, Turtle JR, dan lainnya. Kenyataan ini sangatlah berarti sebagai trigger bagi bangkitnya industri musik tanah air.

Tidak hanya musisi saja, masyarakat penikmat musik pun menyambut dengan penuh antusias. Bukan sekadar hiburan, musik keras adalah sesuatu yang mewakili mereka-mereka yang menginginkan kemerdekaan berekspresi dan kehidupan yang dinamis. Bukan sekadar musik, varian bisnisnya juga mempunyai spirit yang sama dari bisnis pertunjukan, tempat hiburan, pariwisata, dan produk-produk pendukung dengan berbagai industri terkait.

Bak pertempuran yang juga memakan korban nyawa, baik itu di sisi musisi hingga masyarakat pencinta musiknya, walaupun secara tidak langsung mereka meninggal bak pahlawan di masa paska pandemi yang dianggap gugur di medan perang sebagai pejuang yang mempertahankan eksistensi musik keras di kota masing-masing. Begitulah spirit yang nampak dari pergerakan di berbagai elemen musik keras di paska pandemi ini.

Menilik momen serupa tentang pergeseran sosial budaya yang digerakkan oleh pegiat musik keras dalam sejarahnya seperti pergerakan kaum "hippies". Kala itu, dari dekade 1950-an hingga 1970-an, disibukkan dengan peperangan berjilid hingga era Perang Vietnam di Amerika Serikat, ada sesuatu yang digerakan dari sebuah kerasahan masyarakat yang terimpresi atas kondisi perang tersebut. Mereka meneriakkan perdamaian dengan berbagai slogan, seni visual, attitude, fashion, dan tak terkecuali peran musisi-musisinya seperti Jimi Hendrix, Janis Joplin, The Doors, dan Pink Floyd. Sedangkan pertunjukan yang mewakili pergerakan itu adalah pagelaran musik bernama “Woodstock” pada dekade 1960-an.

Kemudian ada juga pergerakan musik "Rock n' Roll", yang menurut historisnya merupakan gabungan musik dari kultur kulit putih Amerika Serikat dan musik dari kultur Afrika, ketika musik country tercampur dengan musik blues, jazz , RnB, dan gospel maka proses peleburan musik ini secara tidak langsung menyuarakan "anti rasialis" hingga pada perkembanganya di era 1970-an muncul pergerakan anti-rasis yang mulai terstruktur bernama RAR (Rock Against Racism).

Kemudian pergerakan musik punk yang mewakili pergerakan kelas menengah untuk sebuah kesetaraan sosial dari era ke era musik punk yang dikenal dengan musik dengan lirik provokasinya menjadi senjata ampuh untuk sebuah gerakan di ranah musik keras dari zaman ke zaman.

Kemudian ada juga pergerakan musik independent melawan dominasi industri musik major label di era 1990-an, khususnya di Indonesia, ketika genre musik keras mempunyai peran sangat besar dengan spirit yang dikenal di era itu dengan sejumlah istilah "underground", "independen", DIY, dan sebagainya.

Menjadi sebuah kultur ketika perubahan-perubahan tatanan sosial masyarakat tak luput dari pengaruh dinamisasi kehidupan bermusik masyarakatnya khususnya musik keras.

Image source: Shutterstock

PERSONAL ARTICLE

ARTICLE TERKINI

Tags:

#arief blingsatan #musik keras #industri musik #pandemi #Supernoize

0 Comments

Comment
Other Related Article
image article
NOIZE

Praktik Musik Indonesia 7 Tahun Terakhir (Sebuah Wacana)

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Yulio Piston: Rilisan Album Lokal Terfavorit 2022

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Dewo Iskandar: Ciptakan Orbit Musik Lo Sendiri!

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Rudolf Dethu: Mana Tembang Mencelakai, Mana Membawa Damai

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Apa yang Harus Dilakukan Saat Mendapat Undangan Tur ke Luar Negeri?

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Dewo Iskandar: Jaga Konsistensi Lo Dalam Bermusik!

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Acum Bangkutaman: Budaya Apresiasi Musisi Baru Tanah Air

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Rudolf Dethu: Bali, Destinasi Wisata Konser

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Arief Blingsatan: Semangat Lokalitas yang Menghidupkan Kota

Read to Get 5 Point
image arrow
image article
NOIZE

Yulio Piston: Go Internasional, Perihal Pencapaian atau Gegar Budaya?

Read to Get 5 Point
image arrow
1 /